Opwall 6th – 7th week : Final week of Jungle Site

Standard

Minggu demi minggu yang selalu aja dihitung pada akhirnya menemui ujungnya. Minggu ke 6 yang di-jad-wal-nya sihh bakal jadi minggu terakhir aku masuk site di hutan berhubung di minggu ke 7 alias akhir saya harus tinggal di desa karena bertanggung jawab untuk melakukan inventarisasi akhir dan final report yang harus diserahkan pada local manager.

Rabu pagi, seperti jadwal biasa kami bersiap-siap berangkat. And the truck is coming.. mari berangkaaaatt..

Jungle Staff di akhir season(foto bareng manager north buton sebelum cyuss ke camp)

Jungle Staff di akhir season(foto bareng dulu sama manager north buton sebelum cyuss ke camp)

Bongkar Muat

Bongkar Muatan

Perjalan ke Bala tahun ini sangat berbeda dengan yang saya alami dua tahun terakhir, kenapa? Soalnya tuh tahun ini keriing.. gak ada hujan sedikit pun sepanjang perjalanan ke camp bahkan cerah ceria. Beda banget dengan dua tahun lalu yang curah hujannya lumayan tinggi bahkan di tahun pertama sempat banjir dan pake acara mengungsi ke bukit.

Ini gambaran perbedaan dari tahun ke tahun..

tahun pertama, hujan paling deras..

tahun pertama, hujan paling deras..

tahun kedua, gak sederas tahun pertama kan?

tahun kedua, gak sederas tahun pertama kan?

tahun ketiga.. mulai kering..

tahun ketiga.. mulai kering..

Dan hai Bala Camp, setahun lalu kita ketemu akhirnya ketemu lagi tahun ini. Pertama tiba disana rasa kangen seketika terhapus dengan melihat suasana camp yang tetap semenyenangkan tahun-tahun sebelumnya, khususnya staff yang selalu membuat suasana di tengah hutan gak krik..krik alias mereka selalu aja bisa membuat suasana jadi rame. Nah, selain perbedaan di cuaca ternyata tahun ini terjadi perubahan terhadap camp bala. Mulai dari manajemen, kegiatan,dan yang paling nonjol sih suasana camp.

New look of Bala Camp

New look of Bala Camp

Tahun ini seperti yang saya ceritakan di minggu pertama, kalau manager untuk camp di hutan telah berubah. Yang biasanya di handle oleh staff lokal, namun tahun ini oleh staff asing. Pada dasarnya gak ngaruh amat sih sama pelaksanaan kegiatan di hutan, karena walaupun staff lokal tidak lagi menjabat sebagai manager yang secara tertulis memiliki posisi struktural tertinggi di hutan, toh kalau ada sesuatu, kalau mau order barang dari desa tetap aja komunikasi ke desa dan tetap melibatkan staff lokal. Jadi sebenarnya inti dari perubahan manajemen ini menurut aku sih, karena pihak Opwall pusat ingin lebih mudah mengontrol jalannya kegiatan yang mereka organize disini makanya mereka menjadikan staff asing sebagai manager di site hutan. Selain itu kegiatan di hutan kali ini cukup bervariasi, gak cuma pengamatan aja. Setelah seharian pengamatan di hutan malam hari anak sekolahan di kasi kuliah, jadi judulnya “jungle lecture”.

suasana jungle lecture

suasana jungle lecture

Dan terakhir yang paling jelas perubahannya adalah camp. Camp di tengah hutan diperluas dan pasti konsekuensinya adalah penebangan pohon. Hmm.. saya sih bukan berlatar belakang kehutanan, namun dalam pandangannya saya sebagai awam, walaupun lokasi camp bukan hutan konservasi melainkan hutan produksi tetapi setidaknya pihak yang terkait terhadap pelaksanaan kegiatan disana menunjukkan sikap bertanggung jawab terhadap yang telah mereka lakukan, misalnya menanam pohon sejumlah yang mereka tebang atau lebih in case ada beberapa yang gagal tumbuh. Tapi entahlah, saya belum tahu bagaimana cara mengintervensi hal tersebut, toh lini kerja saya menjaga kesehatan tim, staff, dan peserta. Hufft nya dehh~

Well, mari kembali ke cerita di camp.  Di minggu (yang saya kira) akhir di hutan saya pun pengen ngelakuin segala sesuatu yang saya senangi. Mulai dari masak-masak sampai menikmati mandi ala jacuzzi di sungai. Masak-masak di hutan emang jadi kebiasaan dari tahun ke tahun, kalau lagi senggang ya mending masak-masak yaa anggap aja upaya meningkatkan status amatir cooking ke pro (ya kalee~). Makanya sampe bela-belain beli aneka frozen seafood yang bentuknya lucu-lucu itu loh, buat bikin steam boat ala ala di hutan. Dan emang senang aja kalo kita bisa menjalin keakraban sembari mengisi perut heheh. Selain itu mandi bareng di sungai (nih sungainya udah ter cover ya..jadi nyaman aja buat cewe2 yang malu mandi di ruang terbuka) saya aja ama staff cewe2 kalau mandi masih aja heboh ala2 anak kecil ketemu air, gimana bule2 yang seumur-umur nya barusan ketemu air sungai..mereka mandi sambil teriak2, cekakak cekikik -_- ya gitu lahh.. Mungkin begitulah gambaran saya kalo ke negara mereka dan main salju (bakal norak juga :p).

Nah, satu lagi yang ga boleh dilewatin kalo ke bala.. main ke “bukit senyum”. Bukit senyum itu salah satu lokasi di hutan yang “paling dekat” dengan camp kalau mau nyari sinyal handphone. Sebenarnya nama bukit senyum itu kamuflaseeee, untuk menyembunyikan kesusahpayahan bagaimana kamu harus berjuang mencapai atas bukitnya, seperti nama greenland yang gak se”green” yang kenyataannya di dominasi daratan es. Naik ke bukit senyum, lumayan bingit yah membakar kalori (pret..) untuk ke sana dari camp memakan waktu 20-30 menit. Tapi terbayar kok pas sampe di atas, karena nemu sinyal dan view nya bagus..juga spot foto2 lucu banyak. Jadi mungkin namanya lebih tepat “Bukit Insya Allah Akan Membuatmu Tersenyum (apabila udah sampe di atas)” hahah..

Too much Wefie di Bukit Senyum

Too much Wefie di Bukit Senyum

Spot foto lucukks

Spot foto lucukks

Memang Camp Bala selalu menyimpan memori kebahagiaan yang sulit terhapus (sudah terharu aja gak bakal masuk hutan lagi,padahal…)

Our last jungle wefie 😁

Our last jungle wefie 😁

Hingga tibalah saat nya kami harus meninggalkan Camp Bala dan kembali ke Labundo-bundo.

Wajah sumringah grup yang menyelesaikan jungle tracking (saya penggembira aja :p)

Wajah sumringah grup yang menyelesaikan jungle tracking (saya penggembira aja :p)

Ada sedikit bonus buat staff Jungle sebelum memasuki minggu terakhir, yaitu di ajak main ke pantai. Konsepnya sih hidden beach. Tapi lebih ke ” you dikerjain beach”.. kenapa?? karena untuk kesana dikasi lewat jalur yang kita harus becek-becekan..hahah..but it’s fun actually. Jadilah kita menikmati pantai sebelum memasuki minggu akhir.

Be ciek..Ga ada O jiek

Be ciek..Ga ada O jiek

lompat..lompat..

lompat..lompat..

Yeah..we did it..Human Pyramid!

Yeah..we did it..Human Pyramid!

Masuk di minggu akhir, yak! Mari semangat kerjain inventarisasi dan laporan akhir. Lumayan rempong sih, walaupun hal ini sudah saya kerjain sejak dua tahun terakhir. Namun memisahkan jenis obat-obat berdasarkan nama, mendata tanggal expire, menyingkirkan obat-obat yang gak bakal kepake tahun depan, kemudian di ketik dalam bentuk laporan cukup menguras waktu karena saat itu hanya diriku seorang yang bekerja. Karena saat itu medik yang tersisa hanya dua orang dan satu orang harus mendampingi grup terakhir masuk ke hutan. Well it’s okay lah dikasi waktu kurang lebih seminggu bisa lah dicicil2 kerjanya setiap hari. Te-Ta-Pi di hari kedua baru memulai kerjaan inventarisasi di Labundo, tiba-tiba dari radio ada kabar salah satu siswa ada trouble dan butuh evakuasi. Awalnya sih, saya hanya diminta menjemput siswa yang akan di evakuasi itu, jadi ketemunya di tengah perjalanan track ke camp gitu.

Evakuasi di hutan..terlalu konvensioanl dan jauh dari standar, intinya mah selamat katanya hehe

Evakuasi di hutan..terlalu konvensioanl dan jauh dari standar, intinya mah selamat katanya hehe

Namun.. entah karena sesuatu dan lain hal, saya diminta untuk tinggal di camp. Hahah.. Gagal deh yang minggu lalu jadi minggu terakhir. Sebenarnya saya agak kepikiran gak mau stay di hutan, bukan karena gak senang yaa.. Tapi mikirin kerjaan inventarisasi di Labundo yang belom kelar, huahh.. Sementara medik yang balik ke desa gak ngerti proses dan sudah sejauh mana aku kerjain inventarisasi. Jadinya terbengkala untuk sementaralah kerjaanku..hufft..

***

Yahh, daripada kepikiran kerjaan yang belom selesai mending saya menikmati minggu terakhir hutan sebelum officially ditutup untuk season ini. Dan, grup di minggu terakhir ini responnya bagus banget diajak seru-seruan di malam sebelum balik ke Labundo. Jadi malam itu mereka diajak poco-poco bareng dan jagonya mereka sampe hapal gerakannya. Aahhh, seru deh malam itu gak Cuma poco-poco ada juga macarena dance sampe tari khas sulawesi tenggara “lulo” yang ribet banget langkahnya tapi pada akhirnya aku bisaaa juga lulo. Selain itu mereka juga kita ajak main game simple tapi lumayan bikin ngakak.

Games masukin pensil dalam botol.. couretsy mas arthur

Games masukin pensil dalam botol.. courtesy mas arthur

Dan pada saat perjalanan pulang, ini nihh “anggap aja permainan” nyimpan atau ngegantung ranting sampai masukin batu ke sela2 tas orang yang jalan depan kamu. Daan aku sempat jadi korban salah satu anak sekolahan bernama Lauren. Si Lauren naruh beberapa batu yang cukup gede di atas tas ku, dan itu ternyata aku udah bawa selama lebih dari 10 menit, pantas aja pas track nya nanjak aku ngerasa kok tasku tambah berat yah..ternyataaa huaaa dikerjain.. 3 batu gede duduk cantik di atas tas. Tapi aku bukan satu-satunya korban Wil, salah satu staff jadi korban borongan. Secara diam-diam kami memasukkan kurang lebih 20 benda dalam tas nya dari daun, batu sampai buah hutan. Hahah.. Setidaknya buat kami lupa track yang lumayan panjang.

Bangkit, salah satu tersangka yang suka kerjain orang

Bangkit, salah satu tersangka yang suka kerjain orang

Well.. no more jungle..that’s officially the last. Dan..kerjaan saya belum selesaiiiiiii inventarisasi obat belum selesai..laporan belum selesaiii…Aaakkk… Makanya, segera setelah sampai.. Saya buru-buru ke klinik dan nyelesaiin semuanya sampai jam setengah 3 subuh. Hufftt.. Soalnya besok pagi sudah harus ninggalin Labundo menuju ke Bau-bau.

Begini nih model inventarisasi..terbongkarrr

Begini nih model inventarisasi..terbongkarrr

Sedih rasanya harus berpamitan pada warga Labundo, karena saya udah mutusin untuk gak bekerja disana lagi. Sedih rasanya akan jauh dari hutan yang meninggalkan memori yang begitu berkesan begitupula bekerja dengan orang-orang di Opwall.

Too much laugh and happiness to be left

Too much laugh and happiness to be left

Sayapun meninggalkan Labundo, sampai jumpa Labundo. Senang pernah berbagi cerita disini. Bye Labundo, Bye Jungle.

All Jungle Staff.. Happy to work with you guys..

All Jungle Staff.. Happy to work with you guys..

Advertisements

About celotehsihijau

Hi saya Andini Afliani Putri, Bisa dipanggil andini  tapi entah kenapa banyak yang manggil Digon.. Seorang pelayan kesehatan rakyat yang lagi bekerja di salah satu sudut Kalimantan, di Kutai Kartanegara. Pembelajar seumur hidup yang berjuang meraih JannahNya.. Pemimpi yang terbangun untuk mewujudkan sang mimpi.. Penulis yang lebih banyak tidurnya.. Petualang yang kadang masih terkekang.. Sangat cinta traveling, petualangan,  budaya, wisata kuliner, mountaineering, nyanyi (suara pas kurang dikit  :p), saat ini berupaya mengembangkan kecintaan dalam menulis khususnya travel writing, dan bekerja untuk kemanusiaan Bagi yang ingin bertukar info atau sharing apa aja  bisa  kok ketemuan di : FB : Andini Afliani Putri Twitter : @AndiniAfliani Cheers!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s