Another Amazing Year With Operation Wallacea

Standard

Hai blog..apa kabar? Setelah mati suri [lagi] et causa si pemilik blog sibuk ngurus masa depan akhirnya ada waktu buat menulis lagi. Setahun lalu saya sudah menulis tentang pengalaman sebagai “jungle doctor”. Alhamdulillah tahun ini saya kembali berkesempatan gaul dengan bule-bule yang sangat semangat mempelajari indahnya hutan serta hewan-hewan yang menghuninya.

Tahun ini saya mengikuti Opwall pada empat minggu terakhir yaitu mulai Minggu kelima kegiatan Opwall berjalan, dimana saat itu masih dalam bulan ramadhan. Namun puasa bukanlah halangan untuk bekerja, ciyeh. Kembali lagi setelah satu tahun berpisah akhirnya mengobati rasa rindu akan keramahan warga Labundo-bundo, persahabatan yang telah terjalin antar staff dan scientist baik lokal maupun asing, serta serunya hidup di hutan.

Hello again Opwall !

Hello again Opwall !

Walaupun di tahun kedua ini tidak dapat dipungkiri saya bertemu dengan banyak wajah baru. Tidak hanya scientist lokal tetapi juga scientist asing a.k.a mas dan mba bule, tapi itulah point of interest nya memperbanyak teman! Hari pertama tiba di Labundo-bundo saya disambut dengan Pak Mantan dan Ibu Mantan (orang yang dikenal baik oleh waga Labundo) bagi saya mereka seperti orang tua sendiri karena kebaikan dan perhatiannya. Namun tahun ini saya tidak tinggal di rumah yang sama dengan tahun lalu, tak apa-apalah hitung-hitung lebih mengakrabkan diri dengan warga Labundo-bundo yang lain. Selanjutnya bertemu dengan wajah baru, untuk kalangan mahasiswa IPB ada 5 wajah baru yaitu dila,oge,langau,romi dan fahmi selebihnya 2 wajah expire (maap ya ron,ian :p), dalam beberapa menit usaha pengakraban pun dijalankan dengan jalan bareng mencari air terjun yang gagal dan berakhir di foto-foto selfie gak jelas..

10628545_10202625403468395_8692801344792249058_n

Lets take a selfie!

1st Week : After a long time Hello again Bala Camp!

Hari berikutnya saya pun tak sabar untuk segera masuk hutan mendampingi para scientist, dan saya mendapat giliran di Bala Camp yang lokasinya lumayan jauh dan track tersulit diantara semua camp. Ya ya ya..merupakan suatu tantangan yah bagi yang berpuasa. Namun saat itu saya udah niat dan doa banyak-banyak semoga diberi kekuatan dan Alhamdulillah yah, sanggup kok. And welcome back Bala Camp..I miss you so much!

jungle kitchen, hammock.. hello again bala!

jungle kitchen, hammock.. hello again bala!

Staff nya pun masih sama walau ada beberapa yang sudah tidak bekerja lagi, dan yang memang terasa bedanya adalah staff asing dan scientist.. semua wajah baru! Harus mulai dari nol lagi deh ini kenalannya. Tapi syukurlah mereka semua supel, walaupun pada awalnya agak mati gaya juga ya kenalannya, soalnya bingung bahas apa. Eh ternyata oh ternyata nongkrong di dapur yang akhirnya mengakrabkan saya dengan seorang scientist bernama Sam dan dua volunteer bernama Biff dan Alice.

Ini nih kerjaan yang bisa bikin akrab..masak bareng..hehehe

Ini nih kerjaan yang bisa bikin akrab..masak bareng..hehehe

Hari-hari di Bala Camp terasa berjalan begitu cepat, kenapa ya? Mungkin karena staff nya menyenangkan dan scientist nya mulai asik. Dari obrolan selepas makan malam, saya seringkali curi-curi ilmu dari mereka seputar yang mereka teliti dan sebagainya. Salah satu contohnya adalah perbedaan spesifik moth alias ngengat dan kupu-kupu. Padahal bila melihat hewan bersayap dengan motif cantik yang ada dikepala saya hanya kupu-kupu namun kenyataannya beda. Aidan, seorang scientist muda asal Australia yang mengajarkan saya banyak soal itu ya karena dia memang konsentrasinya di hewan itu. Selain banyak berbagi ilmu ternyata dia juga doyan buat kue dan bereksperimen dengan makanan, salah satu hasil ciptaannya adalah jungle rice pudding yang terbuat dari nasi yang diseduh air panas secukupnya kemudian ditambahkan susu bubuk, gula dan potongan buah. Silahkan membayangkan nikmatnya jungle rice pudding yang “beda” hehehe.

Chef Aidan on action!

Chef Aidan on action!

Tadaaa...ini nih jungle rice pudding

Tadaaa…ini nih jungle rice pudding

Hal lain yang membuat Bala Camp sangat asyik adalah staff nya yang kreatif. Mereka membuat games yang bisa mengakrabkan semua orang di camp tanpa terkecuali. Itulah yang membuat Bala Camp menjadi favorit saya, staff asing dan juga scientist.

2nd Week : Perjuangan di Hari Raya dan Hadirnya Saudara Baru

Minggu kedua saya mendapat giliran untuk bertugas di Buton Utara, kalo tempatnya sih tergolong terjauh dari base camp di Labundo-bundo karena harus ditempuh dengan mobil selama 5-6 jam kemudian nyebrang dengan perahu kecil 30menit, nah itu belum termasuk tracking ke camp di tengah hutan sekitar satu jam. Tapi berhubung track ke camp nya gampang jadi saya semangat dong, gak susah payah kumpul semangat..hihih..Cuman ya gitu deh, jalan ke desa terakhir sebelum nyebrang luar biasa offroadnya karena harus menerjang jalanan super lumpur..ckckck..

jalan offroad abis ciinn

jalan offroad abis ciinn

setelah offroad..melewati laut yang eksotiss

setelah offroad..melewati laut yang eksotiss

Satu hal yang membuat saya senang karena Pak Desa dan Bu Desa (orang yang dipercayakan opwall untuk mengatur kegiatan di camp buton utara) ternyata masih mengenal saya. Jadinya saya gak mesti mati gaya yaaa disana karena obrolan langsung nyambung. Nah, sama dengan staff asing camp sebelumnya, didominasi oleh wajah baru. Syukurlah Sam scientist yang sebelumnya bersama saya di Bala Camp kali ini bertugas di tempat yang sama dengan saya, begitupula dengan Alice dan Biff. Jadinya beberapa hari pertama saat makan atau ngumpul di gazebo saya gak harus diam-diam atau memulai basa-basi dengan staff asing yang baru. Namun, gak tahan rasanya kalo gak memulai sosialita alias kenalan dengan wajah-wajah baru. Wajah baru yang saya kenal adalah Molly dan George mereka adalah koordinator anak sekolah, kenalannya pun ketika dalam perjalanan menuju camp saat mereka menyanyikan lagu ada kodok dalam bahasa Indonesia dengan fasih, lucu kan? Saya pun menyambung lagu yang mereka nyanyikan dan dimulailah perkenalan kami. Mereka berdua cerewet dan tomboy nya keliatan banget. Selanjutnya saya pun berkenalan dengan seorang scientist senior yang juga merupakan koordinator scientist di bidang mamalia bernama Peter, perkenalan dengan Peter di mulai ketika obrolan setelah makan malam. Saya memulai percakapan dengan menanyakan seputar ular yang telah ditangkap Peter untuk dipelajari bersama anak sekolah, kemudian secara otomatis Peter berbicara panjang lebar mengenai pengalamannya dengan ular-ular berbisa di berbagai negara yang dia kunjungi, jenis ular apa saja yang paling berbahaya, tentang temannya yang sempat masuk ICU karena digigit salah satu ular paling berbisa di dunia, dan ular kesayangannya yang telah mati akibat terkena karsinoma di saluran cerna dan udah menjalani kemoterapi bahkan tindakan bedah oleh dokter hewan spesialis bedah konsultan tumor (ada lho yaa..saya baru tahu..hahaha). Berbincang dengan Peter serasa gak ada habisnya, saya seperti menyetel acara National Geographic dan membiarkan dia menyajikan tontonan buat saya. Tapi saking lamanya ngomong saya sudah ganti posisi duduk berkali-kali, gak enak bok motong orang tua ngomong. Alhasil kalo dia udah mulai cerita siap saja jadi pendengar yang baik.

kesibukan setiap hari di camp yang terorganisir dengan baik

kesibukan setiap hari di camp yang terorganisir dengan baik

Beberapa hari di Camp Buton Utara selain memberikan pertolongan medis pada anak sekolah, staff ataupun scientist. Banyak kegiatan seru yang saya lewati. Beberapa di antaranya adalah ketika Andy, manager Camp Buton Utara meminta saya untuk menjelaskan mengenai kegiatan di dapur, menjelaskan berbagai macam makanan tradisional, serta langkah memasak ibu di dapur dengan modal vocabulary seputar teknik masak memasak yang masih minim, jadilah bahasa tubuh dengan menirukan teknik masak seperti mengulek, memarut, serta mengayak adonan layaknya permainan tebak kata saya harus lakukan supaya anak sekolah bule ini pada ngerti. Ada lagi kegiatan rutin setiap selesai makan malam yang saya jalani bersama Sam, yaitu belajar bahasa Indonesia! Sam termasuk rajin mengembangkan kemampuan Bahasa Indonesia nya, sejauh ini kemampuannya sudah bagus karena sudah lebih dari 6 bulan ia tinggal di Indonesia. Namun ia tetap tekun, setiap malam dia menuliskan berbagai kata-kata baru dan meminta saya untuk mengartikannya serta membantunya merangkai dalam suatu kalimat. Salut saya sama bule yang satu ini. Dan satu hal yang tak boleh saya lewatkan ketika di Camp Buton Utara yaitu nyebur di sungainya yang super bening, bersih dan segar banget. Air di bath tub rumahan bahkan hotelpun lewattt.

sam yang slalu smangat belajar bahasa indonesia

sam yang slalu smangat belajar bahasa indonesia

Di penghujung masa bertugas di Camp Buton Utara juga bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, ada sedikit kesedihan dan kekecewaan ketika tim tidak diberi kompensasi untuk kembali ke Labundo-bundo satu hari sebelum Idul Fitri atau dengan kata lain kami terancam untuk merayakan Idul Fitri di tengah hutan. Namun setelah berdiskusi dengan Pak Desa dan manager camp mereka setuju kami meninggalkan camp terlebih dahulu untuk menuju desa terakhir agar bisa melaksanakan shalat Idul Fitri. Sebuah pengalaman baru dalam hidup saya memang, ketika harus bangun di subuh buta yaitu pukul 3 dini hari, lalu saya Pak Desa,Bu Desa serta beberapa staff yang muslim bergegas meninggalkan camp saat para anak sekolah, scientist asing masih tertidur lelap. Mereka ditinggalkan dengan sarapan yang sudah tersaji di meja gazebo. Tetapi ada dua bule yang memang Indonesia banget yaitu Graden dan Sam, mereka berdua rela bangun subuh dan berjalan kurang lebih satu jam menuju desa terakhir untuk ikut berlebaran bersama kami, serunya karena mereka pun ikut melihat jalannya proses sholat idul fitri dengan busana muslim. Dan yang paling seru dari proses “melarikan diri” kami yaitu di tengah heningnya malam kami berjalan beriringan ditengah hutan dengan penerangan obor, perasaan saya seperti itu layaknya setting film pelarian dari kompeni, hahah.

ini nih namanya kambalu

ini nih namanya kambalu

new family in buton

new family in buton

Pada awalnya saya merasa sedih, pertama karena Idul Fitri kali ini saya tidak dapat berkumpul dengan keluarga saya dan yang kedua karena tidak bisa merayakan Idul Fitri di Labundo-bundo bersama teman-teman yang sudah menunggu disana. Namun kebersamaan bersama keluarga Pak Desa, staff lokal, serta Sam dan Graden lumayan mengobati rindu akan sosok keluarga. Satu hari sebelum Idul Fitri pun, saya diajarkan Ibu Desa membuat “kambalu” sejenis nasi yang dibungkus daun hutan dan diikat dengan jenis daun juga, jadi semua bahan untuk membuat kambalu adalah alami. Hal tersebut lagi-lagi mengingatkan saya akan kebiasaan membantu mama membuat yang sejenis bernama “burasa” sebelum Idul Fitri.

akhirnyaaaa balik ke labundo dan menikmati sajian lebaran

akhirnyaaaa balik ke labundo dan menikmati sajian lebaran

Sebelum kembali ke Labundo-bundo, kami singgah di rumah Pak Desa dan Bu Desa menikmati hidangan lebaran ala Buton, jadi kangen rumaaahh hiks! Ya, nikmati saja apa yang ada deh karena kita akan segera balik ke Labundo-bundo woohoo. Dan saat tiba di Labundo-bundo anehnya banyak yang menyambut, ternyata mereka mau menghibur kami yang ga sempat Idul Fitri bareng, hiks [lagi].

Beberapa hari di Labundo-bundo kembali saya jalani sebelum masuk hutan lagi dan karena masih suasana Idul Fitri undangan untuk makan di rumah warga luar biasa banyaknya, istilahnya nih ya.. sampai mau belah betis saja karena lambung udah penuh tapi tawaran makan terus berlanjut..ukh! Dan ada satu cerita mengenai salah satu teman volunteer yang memutuskan untuk memeluk agama Islam. Namanya Biff, awalnya ia tertarik untuk belajar agama saat sering kali ia melihat saya shalat di hutan. Kemudian suatu malam saat sedang berbincang di klinik Labundo-bundo ia bercerita tentang neneknya yang meninggal hari itu, saya pun menyampaikan duka cita untuk neneknya. Saat sedang berbicang waktu itu, ia mendengar suara adzan yang berasal dari masjid yang terletak di sebelah klinik kemudian ia bertanya “Itu suara apa Andini?” “Suara Adzan dari masjid sebelah” jawabku. Ternyata rasa penasarannya tidak sampai disitu saja, ia kembali menanyakan “Apa itu Adzan?” Saya pun kembali menjelaskan bahwa adzan adalah panggilan shalat bagi muslim. Sejenak ia terdiam kemudian menyampaikan hal yang membuat saya bingung setengah mati. Ia ingin mendoakan neneknya yang meninggal saat itu, dan ia minta diantarkan ke masjid untuk berdoa secara Islam atau dengan kata lain ia mau menunaikan shalat. Bagaimana mungkin ia mau menunaikan shalat sedangkan ia bukanlah seorang muslim. Saya tidak bermaksud untuk menghalangi niat baiknya untuk mendoakan neneknya, namun ia perlu tahu bahwa shalat itu ada syarat dan tata caranya. Maka untuk menjaga perasaannya saya pun menyampaikan bahwa sangat senang,bangga dan terharu akan niatnya mendoakan neneknya yang telah meninggal namun shalat itu adalah ibadah umat muslim sedangkan berdoa kepada Tuhan adalah milik semua umat yang percaya adanya Tuhan. Saat itu saya pikir ia telah mengerti, namun tidak sampai disitu. Beberapa hari kemudian ia kembali mencariku untuk tetap mengantarkannya ke masjid dan beribadah di sana. Kebingungan saya semakin menjadi karena saya tak mengerti apa sebenarnya keinginannya. Sore itu saya pun memanggil Biff untuk berdiskusi dengan Pak Mantan, kami berbicara perihal keinginannya yang kukuh untuk diantar ke masjid. Agak sulit bagi saya memulai pembicaraan, karena saya takut akan ada ketersinggungan. Saya mulai dengan pernyataan yang sudah saya sampaikan yaitu shalat adalah ibadah umat muslim sedangkan berdoa adalah milik setiap umat yang mempercayai Tuhan, jadi bila ia tetap mau berdoa di masjid ya boleh saja tetapi setelah kami menunaikan shalat karena syarat sah shalat ada beberapa. Pertama harus beragama islam, selanjutnya ia harus baligh(dewasa), menghadap kiblat, telah menyucikan diri dengan berwudu dan saya juga menjelaskan mengenai beberapa bacaan saat shalat, tetapi saya tetap menekankan pada syarat utama bahwa seseorang harus beragama islam untuk menjalankannya. Dia menyimak dengan seksama penjelasan saya, dan kembali terdiam sejenak. Saat itu kupikir ia telah mengerti bahwa untu mendoakan neneknya ia tidak perlu shalat. Kemudian ia mengeluarkan pernyataan yang kembali membuat saya kaget “Andini saya ingin beragama Islam, sebenarnya saya tidak memiliki keyakinan apapun tetapi melihatmu beribadah membuatku ingin mempelajari Islam” Pernyataannya spontan menimbulkan kebahagiaan namun ada rasa bimbang yang hinggap di benakku bukan mengapa saat itu saya belum paham maksudnya untuk memeluk agama Islam, apakah karena sungguh-sungguh mau mempelajari dan menjalankan agama Islam atau hanya sekedar menjadi batu loncatan saja. Maka sayapun kembali menjelaskan bahwa apabila Ia sungguh-sungguh untuk memulai menjadi Islam, maka ia harus siap untuk taat. Karena agama merupakan petunjuk hidup yang telah diatur olehNya dan semua itu ada dasarnya. Dengan wajah yang serius ia pun berkata “Saya siap untuk semua itu”. Sayapun segera mengabari Imam masjid perihal tersebut, orang-orangpun lebih ramai dari biasanya di masjid Labundo-bundo yang ingin menjadi saksi lahirnya saudara muslim kami yang baru. Maka hari tersebut ia pun resmi memeluk agama Islam, kami pun menyiapkan nama Islam baginya yaitu Abdurrahman Hanifa Houlston yang berarti Orang yang penuh kasih dan berada dalam jalan yang lurus sedangkan Houlston adalah nama keluarganya. Satu pengalaman baru yang tak terlupakan dalam hidup saya. Semoga selalu istiqamah saudaraku.

saat biff bersyahadat

saat biff bersyahadat

3rd Week : I’m going crazy in the jungle

Setelah menikmati suasana lebaran beberapa hari di desa sekarang waktunya kembali beraktivitas di hutan. Yay! Camp yang akan dituju kali ini merupakan camp yang baru dibuka, walaupun lokasinya cukup jauh dari Labundo-bundo, yaitu perjalanan dengan mobil sekitar 2-3 jam namun track ke camp sangat singkat, hanya sekitar 200 meter dari jalan atau berjalan 5 menit saja.Hahah! Ada yang berbeda dengan setting Camp Maleo yaitu hammock yang digantung di setiap pohon, berbeda dengan camp sebelumnya. Untuk hammock biasanya kumpulan hammock digantung di bawah satu bangunan yang beratap tenda, namun di camp ini bisa dilihat perbedaannya. Dan camp selalu saja tak jauh dari sungai, namun untuk camp maleo sungainya pun tergolong terbaik untuk mandi karena terdapat bukit batu yang memungkin untuk di daki daaaann.. kamu bisa melompat ke sungai. Ya! saya melakukan hal tersebut berulang kali.

hammock ala camp maleo

hammock ala camp maleo

batu di balik pepohonan depan sana tuh tempatku main loncat-loncatan

batu di balik pepohonan depan sana tuh tempatku main loncat-loncatan

Di saat sedang tak sibuk di camp maleo hal yang biasa saya lakukan yaitu membuat kue. Bakpau kukus dan roti goreng jadi menu andalan, tapi ya namanya di hutan apa aja dimasak pasti laris. Saat memasak di camp maleo saya sering kali di bantu oleh Reza, seorang guru biologi yang berasal dari Amerika namun asli Bangladesh. Kemampuan masaknya lumayan bagus, kebayang istrinya terbantu banget dalam hal dapur.Heheh.

4th Week : End of season

Tahun ini saya tinggal hingga pekan terakhir Opwall berjalan, di akhir musim tidak ada lagi kegiatan mendampingi anak sekolah. Namun tetap saja siap masuk hutan mendampingi scientist mengangkat perangkap / kamera yang ditinggal di dalam hutan. Dan pada pekan terakhir saya menemani scientist di Camp Lapago yang terkenal dengan lumpurrrr nya cyin ampuun dahh. Ada yang berbeda dengan camp lapago tahun ini, karena lebih kering dari tahun lalu. Katanya sih di awal udah selesai diterjang banjir jadi di akhir musim airnya emang udah surut.

muddy muddy muddy

muddy muddy muddy

finally,last camp done!

finally,last camp done!

Namanya juga pekan terakhir jadi kegiatan di hutan gak banyak. Setelah scientist selesai mengumpulkan trap kebanyakan kegiatan kami adalah bergosip, main kartu dan makan. Hahaha, semacam liburan kan? Hanya beberapa hari di Camp Lapago kami segera kembali ke Labundo-bundo. Suasana akhir minggu terasa banget sedihnya, aktivitas di kantor mulai mencuci hammock dari camp sampai mengemas barang-barang telah terlihat. Aktivitas orang mondar mandir dari kantor ke resto yang merupakan tempat nongkrong pun sudah berkurang. Jadwal pulang pun sudah terpampang di papan pengumuman. Akhirnya satu persatu staff asing meninggalkan Labundo-bundo, kesedihan warga Labundo-bundo jelas terlihat karena desanya akan kembali sepi selama 10 bulan. Tak heran saat staff asing yang berpamitan beberapa diantaranya meneteskan air mata haru, tidak lain karena kedekatan mereka telah tercipta setelah 2 bulan tinggal bersama. But life goes on, semua harus kembali ke aktivitas masing-masing. Saya pun meninggalkan Labundo-bundo bersama rombongan terakhir, setelah berpamitan kami pun berangkat ke Bau-bau untuk menunggu keberangkatan ke kota masing-masing.

bye jungle :(

bye jungle 😦

menikmati hari terakhir dengan barbequean di pantai

menikmati hari terakhir dengan barbequean di pantai

dan menikmati sunset yang super cantik

dan menikmati sunset yang super cantik

Setibanya di Bau-bau, teman-teman scientist tidak mau melewatkan kesempatan untuk mengunjungi tempat indah disana yaitu pantai marina. Tak salah memang pantainya sangat keren. Disana kami menikmati ikan bakar dan jagung bakar yang di siapkan oleh scientist yang paling doyan masak yaitu si Aidan. Dilanjutkan berenang di laut dan menikmati sunset yang cantiik banget. Senang rasanya menghabiskan hari terakhir bersama mereka di tempat yang indah ini. Semoga saja season selanjutnya saya masih berkesempatan untuk mendampingi mereka. See you again!

dan skali lagi..sampai jumpa opwall..terima kasih untuk segala keindahan alam, pengalaman, serta persahabatan yang telah saya dapatkan..wish we meet again!

dan skali lagi..sampai jumpa opwall..terima kasih untuk segala keindahan alam, pengalaman, serta persahabatan yang telah saya dapatkan..wish we meet again!

Advertisements

About celotehsihijau

Hi saya Andini Afliani Putri, Bisa dipanggil andini  tapi entah kenapa banyak yang manggil Digon.. Seorang pelayan kesehatan rakyat yang lagi bekerja di salah satu sudut Kalimantan, di Kutai Kartanegara. Pembelajar seumur hidup yang berjuang meraih JannahNya.. Pemimpi yang terbangun untuk mewujudkan sang mimpi.. Penulis yang lebih banyak tidurnya.. Petualang yang kadang masih terkekang.. Sangat cinta traveling, petualangan,  budaya, wisata kuliner, mountaineering, nyanyi (suara pas kurang dikit  :p), saat ini berupaya mengembangkan kecintaan dalam menulis khususnya travel writing, dan bekerja untuk kemanusiaan Bagi yang ingin bertukar info atau sharing apa aja  bisa  kok ketemuan di : FB : Andini Afliani Putri Twitter : @AndiniAfliani Cheers!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s