Day 7 (June 11th,2013) Gili..li..li..li..li

Standard

Tak biasanya hari ini saya dan Indira bangun lebih awal, yah..kami tak sabar untuk ke Gili Trawangan! Yeeee.. Maka kami pun meninggalkan Mataram sekitar pukul 08.15 WITA.. Untuk mencapai Gili Trawangan kami harus mencapai pelabuhan di Bangsal terlebih dahulu yang jaraknya cukup jauh dari Mataram sekitar 28KM. Namun, karena jalanan yang mulus..lus..lus makanya perjalanan tak terasa, yaaa walaupun jalanannya agak menantang yah..nanjak,turunan dan tiba-tiba tikungan tajam. Namun karena sepanjang jalan disuguhi panorama pantai lombok, maka perjalanan pun semakin tak terasa.

The Gilis

The Gilis

Kapal yang ngangkut kami ke gili trawangan

Kapal yang ngangkut kami ke gili trawangan

Welcome to Gili Trawangan..No Car,No Dog,No Pollution!

Welcome to Gili Trawangan..No Car,No Dog,No Pollution!

Sepanjang jalan ke Bangsal akan melewati pantai senggigi dan malimbu yang didominasi cottage dan hotel elite, untuk hal ini serius cantik! Sampai-sampai si Indira bermimpi punya tanah di sana,hahaha.. 1 jam perjalanan, kami pun tiba di Pelabuhan Bangsal. Sebelum menyeberang kami memarkir motor pada rumah penduduk yang menyediakan jasa parkir dengan pertimbangan lebih aman daripada memarkir di dalam pelabuhan. Sebenarnya ada 3 gili yang fenomenal, gili sendiri berarti pulau. Gili tersebut antara lain Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Namun yang paling menarik perhatian adalah Gili yang terbesar yaitu Gili Trawangan. Syukurlah penyeberangan ke Gili Trawangan terhitung sangat lancar, apabila kapal telah penuh maka segera diberangkatkan. Harga tiket menurut saya lumayan sih, gak mahal amat yaitu sepuluh ribu untuk sewa kapal dan ada tambahan biaya 2.500 untuk biaya khusus kunjungan gitu.  Tantangannya ada pada kapalnya, karena kapal yang digunakan adalah kapal kayu kecil, maka diperlukan kerja sama penumpang untuk  menjaga keseimbangan. Tak perlu menunggu lama, 30 menit kapal dalam perjalanan yang ditumpangi pun tiba di Gili Trawangan. Kesan pertama yang ditangkap oleh teman saya adalah tempat ini cocok dipake syuting “running man”.

pantai gili trawangan, tergoda untuk sunbathing?

pantai gili trawangan, tergoda untuk sunbathing?

yang ini saya suka, full colour!

yang ini saya suka, full colour!

wajib sepedaan keliling gili trawangan

wajib sepedaan keliling gili trawangan

kalo malas sepedaan, cidomo bisa jadi alternatif lho

kalo malas sepedaan, cidomo bisa jadi alternatif lho

Memang suasananya memang asik sih.. Penataannya sangat teratur dan bersih. Oh ya, ada 3 hal yang menjadi daya tarik dari pulau ini yaitu “ No Dog, No Car,and No Pollution” . Sesampainya di sana banyak yang menawari kami untuk menyewa sepeda, namun karena terlena dengan keindahan Gili Trawangan kami pun “sok” berjalan-jalan..Namun baru berjalan sekitar setengah jam dan menemukan daerah yang sudah tak ada lagi bangunan kami mendadak hopeless dan memutar arah balik dan memutuskan menyewa sepeda saja. Gili Trawangan tidak sekecil yang ada di bayangan kami, hahaha.  Akhirnya kami pun menyewa sepeda dan berusaha mengelilingi Gili Trawangan di siang bolong.aaakkk.. Welcome exotic skin! Ada sedikit yang membuat kami menarik perhatian orang-orang di Gili Trawangan, ya karena saya dan Indira berdua berhijab di antara kumpulan orang berbikini. Tapi ya, kami santai saja ya..justru serasa artis sepanjang bersepeda keliling Gili Trawangan tak jarang kami di sapa beach boys ataupun warga setempat.yukkk… Salah satu tujuan di Gili Trawangan adalah mencari konservasi kura-kura, dan ketemu! Konservasi kura-kuranya cukup apik. Selain itu yang saya suka dari Gili Trawangan adalah ada mesjid yang bagus. Mengharukan deh…jadi kaum muslimin yang berlibur jangan lupa beribadah di mesjid dengan dinding seperti kue karamel itu, bersih banget dan pewe! Akhirnya jam menunjukkan pukul 2, saya rasa cukup petualangan di Gili Trawangan. Kami tidak berniat untuk menginap kali ini, mungkin lain kali saja dan kami pun menyebrang kembali ke pelabuhan Bangsal, untuk kembali ke Bangsal harganya lebih murah hanya Rp 10.000.

konservasi kura-kuraaa

konservasi kura-kuraaa

Setibanya di bangsal saya selanjutnya menawarkan Indira untuk melewati jalan berbeda menuju Mataram, yaitu melalui Puncak Pusuk. Puncak Pusuk merupakan daerah ketinggian yang masuk dalam kawasan Lombok Barat. Apa yang membuat saya mau mengajak Indira karena di sana banyak monyet! Hahaha..teman saya yang satu ini sangat suka satwa soalnya, makanya saya mengajaknya untuk melewati Puncak Pusuk. Jadi di sepanjang jalan bisa ditemui monyet-monyet yang jumlahnya tidak sedikit. Kemudian Indira pun memutuskan membeli kacang untuk memberi makan sang monyet, tapi…namanya juga satwa di alam liar. Saat ia melemparkan kacang pada monyet-monyet yang nongkrong di tepi jalan, mendadak gerombolan monyet dari atas pohon ikutan turun! Indira panik karena ia dikejar,hahahaha..Jadi buat yang berniat memberi makan monyet-monyet sebaiknya dari dalam mobil saja karena lebih aman. Setelah lelah bermain dengan monyet kami memutuskan untuk makan di warung yang ada di Puncak Pusuk, namun makanan yang dijual tidak beragam hanya beberapa nasi balap dan mie instant. Namun karena nasi balap lauknya pedas maka saya pun hanya sanggup menikmati mie instant saja.

ketemu banyak monyet di puncak pusuk

ketemu banyak monyet di puncak pusuk

Perjalanan kembali ke Mataram pun berlanjut namun di tengah jalan kami terpaksa menepi karena hujan keras untung saja kami tak perlu menunggu lama dan meneruskan perjalanan. Nah, pada perjalanan pulang kami melintas di depan penjual sate yang sangat wangi, kebetulan saat itu sate rembige menjadi incaran kami. Dan ternyata apa yang kami temui memang sate rembige! Salah satu kuliner Lombok yang enak! Sate rembige berbumbu cabe dan gula merah kemudian dibakar tanpa harus memakai bumbu kacang. Mantap!

sate rembigeee

sate rembigeee

Apa yang kami lakukan selanjutnya adalah hunting tiket pulang, kami masih memikirkan cara termurah mencapai Makassar, beruntungnya saat itu Garuda Indonesia sedang ada promo tiket Lombok-Makassar hanya Rp 436.000 dengan harga normal Rp 700.000an, oleh karena itu kami memutuskan membeli tiket tersebut. Tetapi karena masih memiliki waktu dan sedikit sisa anggaran ahaha, kami nekat memutuskan ke Bali,yeah..berhubung tiket ke Bali tak terlalu mahal apabila menggunakan ferry. Namun berhubung ini malam terakhir di Mataram kami harus menyelesaikan apa yang belum kesampaian. Apa ya? Dan kami kepikiran Jupe Fried Chicken dan odong-odong di Taman udayana! Kenapa Jupe Fried Chicken? Ya, karena penasaran aja gimana menunya. Ternyata memang mengejutkan, di sana bisa ditemui menu “dada jupe” dan “paha Jupe” wow… Hanya di JFC bisa makan dada jupe! Kemudian tujuan terakhir kami, naik odong-odong :’) Soalnya odong-odong nya gak ada di Makassar jadi takut pulang karena penasaran aja.

Jupe fried Chicken!

Jupe fried Chicken!

cobain odong-odong a.k.a kereta wisata

cobain odong-odong a.k.a kereta wisata

Tips :

–          Bila ingin bersepeda, gunakan Lotion yang SPF nya tinggi bila tak ingin terbakar.

–          Bagi yang berniat memberi makan sang monyet di Puncak Pusuk, siapkan makanan sebelum tiba. Bisa roti atau kacang dan bila mau memberi makan, akan lebih aman bila dilakukan dari atas mobil yang berkaca.

Cost :

–          Nu Green Tea+Yeos Cincau Kaleng = Rp 10K

–          Kapal : Bangsal – Gili Trawangan = Rp 10K + biaya berkunjung lokal : Rp2,5K

–          Sewa sepeda : Rp 15K/jam à Rp 30K 2jam

–          Kapal : Gili Trawangan – Bangsal = Rp 10 K

–          Mie Instant di Puncak Pusuk : Rp 5K

–          Sate Rembige : Rp15K/porsi

–          Tiket Garuda Indonesia LOP-MKS : Rp 436K

–          Jupe Fried Chicken : Rp12K

–          Odong-odong ; Rp 25K

Total : 555,5K

Advertisements

About celotehsihijau

Hi saya Andini Afliani Putri, Bisa dipanggil andini  tapi entah kenapa banyak yang manggil Digon.. Seorang pelayan kesehatan rakyat yang lagi bekerja di salah satu sudut Kalimantan, di Kutai Kartanegara. Pembelajar seumur hidup yang berjuang meraih JannahNya.. Pemimpi yang terbangun untuk mewujudkan sang mimpi.. Penulis yang lebih banyak tidurnya.. Petualang yang kadang masih terkekang.. Sangat cinta traveling, petualangan,  budaya, wisata kuliner, mountaineering, nyanyi (suara pas kurang dikit  :p), saat ini berupaya mengembangkan kecintaan dalam menulis khususnya travel writing, dan bekerja untuk kemanusiaan Bagi yang ingin bertukar info atau sharing apa aja  bisa  kok ketemuan di : FB : Andini Afliani Putri Twitter : @AndiniAfliani Cheers!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s