A Month Of Adventure With Operation Wallacea

Standard
          Akhir pekan ketiga di bulan Juni saya mendapatkan surprise oleh senior saya. Surprise tersebut adalah tawaran untuk menjadi dokter pada lembaga konservasi yang sudah saya kenal sedari dulu, ya,..Operation Wallacea. Operation Wallacea(Opwall) merupakan lembaga yang bergerak di  bidang konservasi hewan dan lingkungan yang tersebar di beberapa negara di seluruh dunia, salah satunya di Indonesia tepatnya di Pulau Buton. Sebenarnya saya sudah cukup akrab dengan lembaga ini, karena senior-senior alumni Unhas setiap tahunnya sering kali menjadi tim medis disana dan sering kali setiap ada peserta Opwall yang dirujuk ke Makassar untuk mendapatkan penanganan medis, saya biasanya ikut mendampingi.  Nah, pekerjaannya sendiri adalah yaa tetap sebagai dokter tetapi disini dokternya berbeda setting bukan di rumah sakit dan berjas putih seperti pada umumnya melainkan disini bekerja sebagai dokter di dalam hutan dan berjas hujan,hahaha… Sedangkan saya sendiri sangat suka dengan yang namanya “adventure” oleh karena itu saat mendapatkan tawaran ini saya sangat excited dan terharu (loh?). And the adventure is begin *woo…hoo*
Opwall Logo new txt

 1st week,Rabu 26 Juni 2013.Bandara Betoambari, Bau-bau. Sulawesi Tenggara. 11.30AM

                Pukul 11.30 pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandara Betoambari,Bau-bau. Sebenarnya lokasi yang dituju adalah Labundo-bundo, desa kecil yang lokasinya masih jauh yaitu sekitar 30an kilometer, tapi saya gak tau secara pasti ya. Soalnya ini kali pertama saya menginjakkan kaki di Pulau Buton. Nah! Sesampainya di Bandara saya bagaikan anak ayam hilang, gak tahu mau dijemput siapa dan saat mau menelepon contact person yang dikasi, ternyata sinyal disana jelek maka bingungpun berkelanjutan. Emang sih setibanya disana banyak ketemu bule dengan setelan seperti saya (bawa carrier plus daypack), dan saya pun berasumsi kalau mereka semua adalah peserta Operation Wallacea walaupun saya belum mencoba bertanya sih. Awalnya saya agak ragu mau bertanya tetapi untung saja sebelum saya memberanikan diri sok kenal dengan si bule saya terlebih dahulu disapa oleh seorang cewek berparas Indonesia. “Mau ke Wallacea ya?” tanyanya “Eh, iya,ke Labundo-bundo kan?” Jawab saya dengan mata berbinar seolah menemukan secercah harapan. “Sama dong,kita bareng kalo gitu”. Akhirnya kami berkenalan, mba nya bernama Aron dan dia ternyata gak sendiri, dia datang bareng cowok yang namanya Nara. Mereka berdua kenalan pertama saya dalam petualangan ini :’) *hiks* Kami pun berjalan keluar Bandara dan bertemu dengan panitia lokal yang mendata rombongan yang datang.

Wings Air yang siap mengangkut saya ke Bau-bau..

Wings Air yang siap mengangkut saya ke Bau-bau..

The Angkots..mobil jemputan yang udah stand by di airport, tapi saya gak naik ini lho.heheh

The Angkots..mobil jemputan yang udah stand by di airport, tapi saya gak naik ini lho.heheh

                Saat perjalanan menuju Labundo-bundo, kami disuguhkan tawaran rutin yaitu makan siang di salah satu rumah makan. Iya sih, udah masuk jam makan siang juga, hehehe. Nah kami pun singgah di salah satu rumah makan yang penampakannya biasa aja sih, tapi menu nya di buat bilingual alias dua bahasa jadi kesannya gimana gitu,hihihi. Selesai makan siang perjalanan dilanjutkan, sepanjang jalan menuju Labundo-bundo pemandangannya sangat cantik, hampir sepanjang jalan pemandangannya berupa laut dengan latar belakang gunung, selain itu sempat juga melewati desa yang di dominasi masyarakat hindu jadi alala mini Bali. Setelah melalui krang lebih 3 jam dengan jalanan yang bervariasi dari aspal mulus hingga berbatu-batu maka sampailah kami, Labundo-bundo! Desa yang tidak terlalu besar namun kesan pertama yang saya tangkap adalah keramahan penduduknya , suka deh!

Menu pake subtitle

Menu pake subtitle

                Namanya juga orang baru pertama datang dan berkenalan masih malu-malu, tapi syukurlah keramahan penduduk dan staff Opwall membuat saya cepat beradaptasi. Staff pertama yang menyambut saya adalah Charlotte yang merupakan manager, sudah menjadi tugas dia kali ya menyambut kami dan memberikan pengarahan awal. Selanjutnya saya pun ditunjukkan tempat tinggal saya yaitu di salah satu rumah keluarga kecil yaitu keluarga Pak Iwan atau Papa Baim. Di hari pertama yang saya lakukan adalah berkenalan dengan staff serta beberapa warga Labundo-bundo setelah itu bertemu dengan staff medis lain untuk mencari tahu tugas saya untuk minggu ini. Selain saya, sudah ada 3 orang staff medis yang terlebih dahulu tiba. Mereka adalah dr.Olga, dr.Tessy dan Sarah yang merupakan perawat dari Inggris.  Saya lalu berusaha mengakrabkan diri.

Selamat Datang di Labundo-bundo!

Selamat Datang di Labundo-bundo!

                Sebagai staff medis, setiap minggunya kami bertugas mendampingi tim scientist ataupun anak sekolahan yang terdiri atas bule-bule menuju camp di tengah hutan,tempat mereka belajar. Untuk minggu pertama saya mendapatkan tugas mendampingi tim yang akan menuju Buton Utara yang konon katanya paling jauh. Okay! No problem, saya malah excited gak sabar menantikan hari keberangkatan.

Tim yang berangkat menuju camp di hutan biasanya berangkat pada hari kamis atau jumat. Maka apabila belum berangkat ke hutan, saya pun melakukan aktivitas di Labundo-bundo.  Maka saat waktu luang, saya pun mengunjungi salah satu ruangan di kantor kelurahan yang di sulap menjadi klinik, tempatnya sederhana. Namun cukuplah untuk melakukan penanganan standar ditunjang dengan obat dan peralatan medis yang telah dimiliki.

A very simple clinic where i work

A very simple clinic where i work

Selamat datang di rumah sementara saya, rumah keluarga Iwan

Selamat datang di rumah sementara saya, rumah keluarga Iwan

Ada satu hal yang menarik adalah waktu makan yang teratur, makan pagi jam 7-8 pagi, makan siang jam 12-1, dan makan malam jam 6-7 malam. Jadii..kalo datang di luar jam itu, harapan untuk mendapatkan makanan sangat tipis dan harus memberanikan diri meminta makanan di dapur kalo emang lapar banget ya..Nah, saat makan pun harus antri dan bersaing dengan anak sekolahan yang jumlahnya puluhan.Jadi bayangin aja kalo telat datang..Selain itu, selesai makan ada ritual yang harus di jalankan..yaitu cuci piring sendiri!

Mari makan!

Mari makan!

Cuaca di Labundo-bundo tidak menentu, di siang hari kadang cerah kadang mendung, tapi yang pasti kalau malam tergolong sejuk dan gak perlu pake AC! Namun listrik disini terbatas karena mengandalkan genset, jadi hanya menyala pada pukul  6 sore hingga 12 malam, maka kalo terbangun tengah malam dan hendak ke wc selalu lah menyiapkan senter.

1st week. Jumat 28 Juni 2013.Labundo-bundo, Bau-bau. Sulawesi Tenggara. 07.00AM

              Yay! Akhirnya hari jumat, saya sudah tak sabaran berangkat. Setelah packing saya lantas menunggu mobil yang akan mengantarkan ke Camp di Buton Utara. Untuk mencapai camp tersebut ternyata harus menempuh berbagai tantangan.  Tantangan pertama adalah jalanan yang dilalui, minim aspal alias berbatu-batu, maka terombang-ambinglah perjalanan darat kami, selain berbatu-batu ada pula tantangan lain yaitu jalanan super lumpur, ngeri juga sih. Butuh keahlian supir dalam memainkan setir agar tidak terjebak dalam lumpur. Selama kurang lebih 5 jam perjalanan akhirnya tibalah kami di ibukota Kabupaten Buton Utara yaitu Ereke. Tapi belum selesai, kami masih harus menempuh perjalanan selanjutnya yaitu naik kapal. Yeyeye.. syukurlah sore itu berawan, maka kami pun yang menumpangi kapal tanpa atap itu tak perlu kepanasan. Luar biasa pemandangannya, seperti di fim-film setelah melewati lautan, kami lalu memasuki sungai yang berliku dimana kiri dan kanannya berjejer bakau, so tropical! 1 jam perjalanan dengan kapal akhirnya tiba di dermaga menuju camp. Tunggu, ini belum selesai lho. Inilah perjalanan sesungguhnya karena harus ditempuh dengan kaki sendiri, ya! Tracking gitu deh menuju camp. Menurut guide, camp terletak di kaki gunung yang memakan waktu perjalanan kurang lebih 2 jam.  Sepanjang perjalanan saya berbincang dengan staff dapur, yaitu 2 orang ibu bernama Ibu Tanti dan Ati. Layaknya warga desa di Labundo-bundo mereka sangat ramah.  Untuk mencapai camp track yang harus dilalui berupa kebun kelapa, sawah, hutan, dan melewati 8 sungai!

Main kapal-kapalan,hihihi

Main kapal-kapalan,hihihi

Salah satu track yang dilalui

Salah satu track yang dilalui

Mendaki gunung, lewati sungaii..syubidab..bidab

Mendaki gunung, lewati sungaii..syubidab..bidab

              Setelah melewati sungai ke 8, maka mulailah tampak stepping stone yang seolah-olah menjadi tanda kehidupan dan tadaaa akhirnya kami sampai juga di camp. Saya sangat terkejut ketika tiba di camp, karena yang ada di bayangan saya adalah camp yang sangat sederhana, layaknya camp yang biasa saya lihat saat mountaineering. Namun kali ini tidak, yang saya lihat adalah tenda semipermanen dan gazebo yang sangat mewah! Saya pun berkata “Ini bukan camp,ini hotel!” Iya sih bagus, tapi kesan adventure nya jadi luntur gitu. Well, keep enjoy saja deh.

Selamat datang di camp!

Selamat datang di camp!

Gazebo yang menjadi tempat makan dan diskusi

Gazebo yang menjadi tempat makan dan diskusi

            Saat tiba di camp, sekujur tubuh terasa gerah. Maka saya pun tak menyiak-nyiakan kesempatan menikmati mandi di sungai yang ada di dekat camp. Segar sekali! Usai mandi, hari pun beranjak gelap dan akhirnya dinner time! Lapaarrr..Makan malam pertama saya masih canggung, maklumlah ini minggu pertama saya bekerja. Namun saat makan memang menjadi moment untuk mengakrabkan diri yang bagus, sambil makan saya pun berkenalan dengan Jessie seorang scientist megafauna, Josh yang merupakan scientist ular, dan bule yang tidur sekamar dengan saya,Fez scientist serangga. Ternyata mereka asik diajak ngobrol. Sebenarnya saat itu ada beberapa anak sekolahan ditambah 2 orang gurunya. Namun staff memang lebih ramah, kecanggungan saya perlahan berkurang.

Siapa yang tidak tergoda mandi di sungai ini coba?

Siapa yang tidak tergoda mandi di sungai ini coba?

              Setelah perut kenyang, rasa ngantuk sudah menghampiri. Sayapun menuju tenda dan iseng-iseng membaca dulu dan ternyata saya ketiduran! Nah, saat ketiduran saat itu saya sempat terbangun dan kaget sekali, si Fez memperbaiki selimut dan menurunkan kelambu saya. Oh my..so sweet banget! Thanks Fez!

              Hari-hari selanjutnya pun berjalan, di pagi hari para scientist dan school group menuju ke hutan dan membagi diri ke beberapa tim. Sedangakan saya? Stand by di camp untuk berjaga-jaga apabila ada kemungkinan yang membutuhkan penanganan medis. Kebayangkan bosannya menantikan mereka pulang. Maka, saya pun bermain-main ke rumah staf yang letaknya satu kawasan dengan tenda saya dan ngobrol dengan ibu staff dapur. Setelah merasa akrab, saya pun mencoba meminta kesempatan untuk bereksperimen memasak dengan bahan makanan yang ada, maka jadilah sate bali dan pancake yang berhasil menyedot perhatian semua bule.Hahaha.

sate bali ala chef andini

sate bali ala chef andini

              Beberapa hari sebelum kembali, hujan tak henti-hentinya mengguyur camp. Maka banjir tak bisa dihindari, air bahkan masuk ke camp! Oh my..untung saja kami sudah harus meninggalkan lokasi. Namun justru ini masalahnya, sungai yang kami lalui semua meluap dan tak bisa dilalui, alhasil manager camp dan guide membuka jalan baru yang rutenya lebih panjang menuju dermaga. Tapi tak mengapalah, yang penting kami bisa pulang. Pada perjalanan pulang, saat di kapal lagi-lagi hujan turun sangat deras, bahkan ombak pun terhitung besar sehingga kami seperti terayun di kapal. Para staff spertinya diam-diam mungkin aja tanda takut yah, tapi mas dan mba bule justru teriak-teriak “woo..hoo..yeah!” bahkan ada yang bilang “this is best experience of my life!” ckckck…

              Syukurlah kami pun tiba di Ereke dengan selamat, dan melanjutkan perjalanan terakhir yaitu dengan mobil menuju Labundo-bundo. Namun, sekali lagi kami menemukan hambatan. Pada perjalanan pulang, kami dihadang banjir setinggi perut orang dewasa dan harus menunggu hingga 7 jam agar ketinggian air berkurang hingga bisa dilalui mobil. Syukurlah tak jauh dari lokasi banjir, ada warung yang mau menampung kami. Ada kejadian lucu saat kami kelaparan menunggu, saya pun memesan mie sedaap soto yang ada bubuk koyanya. Saat ditanya oleh Andy,si pendamping school group. “Andini what’s bubuk koya?” Karena saya juga gak tahu, ya saya bilang aja..liat coba di pembungkusnya biasa ada tuh bahasa inggrisnya. Dan saya melihat dia terkesima mendapati bahasa inggris bubuk koya adalah “delicious powder” bagi dia itu seperti hal yang dahsyat namun bagi saya itu penipuan yang berlebihan!

Banjir yang menghadang perjalanan pulang

Banjir yang menghadang perjalanan pulang

              Tujuh jam berlalu dan waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, yang normalnya kami sudah tertidur lelap di Labundo-bundo. Namun karena terjebak banjir maka istirahat harus di pending. Hingga pada pukul 2.30 dini hari dan suasana Labundo-bundo sudah gelap gulita, ya karena genset sudah dimatikan to? kami baru tiba. Saya pun tak sabar segera ke rumah dan menikmati kasur di kamar. Ahh…minggu pertama yang luar biasa. Selamat subuh Labundo-bundo, mari tidur!

2nd  week. Rabu 2 Juli 2013.Labundo-bundo, Bau-bau. Sulawesi Tenggara. 07.00AM

              Pagi yang cerah, dan saya kesiangan! Alhasil harapan mendapatkan sarapan pupus sudah. Syukurlah saya manusia yang mampu survive dengan indomie telor.  Selanjutnya seperti biasa, hari rabu merupakan hari keberangkatan school group lama dan kedatangan school group baru. Dan untuk minggu ini saya mendapat jatah mendampingi school group dari King Edwards School dari Inggris di Bala Camp.

              Hari keberangkatan menuju camp telah tiba. Pukul 09.00 pagi, saya dan rombongan staff serta school group berkumpul di kantor untuk bersiap-siap di antar ke starting point menuju ke Bala Camp. Ada yang berbeda kali ini, apabila minggu lalu kami diantar dengan menggunakan mobil avanza menuju starting point, kali ini lebih seru..Kami menggunakan truk! Wow..satu truk dengan rombongan bule, seru gilaaa..Hahaha!

Truk yang siap mengantar kami

Truk yang siap mengantar kami

              Perjalanan menuju starting point ke Bala Camp memakan waktu satu jam dengan kondisi jalan berbatu tanpa aspal sedikit pun dengan posisi berdiri di truk, tapi si bule asik-asik aja tuh. Malah menikmati kerimbunan hutan sepanjang jalan, dan pantai yang sangat alami. Nah, dalam perjalanan menuju starting point walaupun kami nampak terkesan menderita karena naik truk tapi jangan salaaahh..Setiap melewati pemukiman warga, anak-anak heboh dadah-dadah, teriak-teriak, bahkan ada yang ngejar truk kami. Semacam artis gitu yang lewat,hahaha. Ternyata anak-anak heboh karena si bule, bukan saya.. :p (sapa lo?)

              Setibanya di starting point, Dan (ini nama orang) salah satu koordinator school group sedikit menjelaskan track yang akan dilalui menuju camp. Jadi, track yang akan dilalui pada awalnya berupa kebun  yang becek,  didominasi jalur yang akan sangat menanjak , serta akan berjalan di atas sungai kecil dan air terjun. Tunggu..air terjunn?? Itu seriusan lho.. kita bakal jalan di atas air terjun, selain itu ada bonus di hutan ini..yaituu LOTS OF LEECH a.k.a LINTAH!! Waktu tempuh normalnya 4-5 jam, lama yaa.. baiklah daripada berlama-lama mari jalan!

Track yang panjang

Track yang panjang

Nih air terjun yang harus dilewati, pose dulu ah bareng staff

Nih air terjun yang harus dilewati, pose dulu ah bareng staff

Aaakkk Lintahh!

Aaakkk Lintahh!

              Sepanjang perjalanan hujan sering kali turun walaupun terkadang berhenti, namanya juga hutan hujan yah. Nah, di perjalanan saya berkenalan dengan Mrs.Hill dan Mrs.Sabrina, mereka berdua guru dari King Edward School. Pada awalnya mereka berdua agak canggung menegur saya, karena pada awalnya mereka mengira saya juga scientist! Saat berkenalan dan menjelaskan bahwa saya dokter yang akan mendampingi, ehh mereka langsung jadi sangat ramah lho.. dan memberitahu saya kalau mereka tidak tahu kalau saya staff medis yang mendampingi, karena seperti seumuran dengan muridnya yang masih SMA  itu lho.. (aduh ibu saya kan jadi ge er!) Selain itu salah seorang murid yang King Edward pun dengan ramahnya juga menyapa saya dan berkenalan, namanya Nick. Saat bersalaman dia dengan lancarnya mengatakan dalam bahasa Indonesia “Senang berkenalan dengan Anda” woow. Istimewa!

              Seperti yang dijelaskan Dan pada awal, perjalanan memang menghabiskan waktu yang lama.. Soalnya luar biasa memang track nya, nanjak abis! Untung saja saya sudah sering melalui track seperti ini saat aktif berorganisasi zaman kuliahan dulu. Setelah menempuh perjalanan jauh, kami pun tiba di Bala Camp. Suasana camp nya jauh berbeda dengan Camp yang sebelumnya saya lalui di Buton Utara. Disini jauh lebih sederhana namun inilah yang camp sesungguhnya di tengah hutan. Belajar menikmati kesederhanaan gitu. Tidur bukan di Velbed dan tidak ada lampu listrik seperti di Camp sebelumnya. Di tempat ini saya pertama kali merasakan tidur di Hammock, atau tempat tidur gantung yang dilengkapi dengan kelambu, maklum di hutan. Pencahayaan pada malam hari pun memanfaatkan lampi petromax, alamiii..hihihi, tapi suka!

Welocome to Bala Camp!

Welocome to Bala Camp!

Ini namanya hammock

Ini namanya hammock

Penampakan hammock dari dalam

Penampakan hammock dari dalam

Tempat makan dan diskusi

Tempat makan dan diskusi

                  Hari pertama tiba di Bala Camp yang saya lakukan adalah sok kenal sok dekat dengan staff camp. Ya, itu harus saya lakukan karena selama beberapa hari saya akan banyak berinteraksi dengan mereka. Syukurlah staff di Bala camp amat sangat baik! Baru hari pertama saya sudah merasa sangat dekat, sumpah..mereka baik sekali.! Maka saya tidak menyia-nyiakan kesempatan [lagi] untuk menyalurkan naluri masak-masak saya. Yaa, seperti biasa.. stand by di camp makes me bored jadi daripada gak nagapa-ngapain mending mask-masak. Nah, camp ini gak kalah baiknya. Staff justru dengan senang hati membiarkan saya berpartisipasi aktif di dapur, mereka malah senang. Maka, saya pun mencoba membuat pancake oat dengan saus cokelat. Kemudian saya hidangkan di sore hari sepulang school group survey habitat di hutan, dan mereka sangat surprise dan excited dengan pancake yang saya buat! Mereka senang sekali! Nah, saya pun melanjutkan menu kedua yaitu spaghetti carbonara yang tak kalah suksesnya mencuri perhatian staff dan school group. Testimoni yang paling saya suka datang dari salah satu anggota school group, dia berkata seperti ini “Doctor, I love your spaghetti. It was so tasty!” Aduh, senang deh..hehehe..

              Aktivitas belajar dalam suasana adventure disini sangat terasa. Billy, si scientist herpetofauna sering kali membawa binatang ke camp untuk dipelajari anak sekolahan, yang sempat di bawa antara lain ular dan kodok. Ularnya agak ngeri, soalnya berpotensi berbisa sih…nah kalo kodoknya imut warna hijau muda gitu alala cover buku biologi. Namun pada akhirnya hewan-hewan itu dibalikin kok ke habitatnya. Selain itu ada salah satu aktivitas unik pada malam hari yaitu “eggs on fire” alias masak telur di atas api bukan pake wajan melainkan daun! Walaupun kadang ada yang gagal karena teknik bakarnya salah, namun yang berhasil akan mendapatkan konsistensi telur yang mirip puding. Enak!

Kodok lucuuu

Kodok lucuuu

              Bagi saya Bala Camp ini sangat menyenangkan. Oleh karena itu, waktu berjalan terasa sangat cepat berlalu.Apalah daya kami harus kembali ke Labundo-bundo dan melanjutkan schedule selanjutnya. Terima kasih staff Bala Camp atas kebaikannya dan terima kasih juga untuk kebersamaannya school group King Edwards, kalian terbaik! *hug*

Bala Camp Team, you are all the best!

Bala Camp Team, you are all the best!

 3rd  week. Rabu 9 Juli 2013.Labundo-bundo, Bau-bau. Sulawesi Tenggara. 07.00AM

              Memasuki hari rabu minggu ketiga yang juga merupakan hari “datang dan pergi”. Sebagai staf saya siap-siap saja untuk tugas yang akan di amanahkan. Oh iya, semalam Mrs.Hill dan Mrs.Sabrina serta beberapa murid King Edwards menemui saya di klinik, mereka menyampaikan salam perpisahan karena esok mereka akan meninggalkan Labundo-bundo dan mereka memberikan saya surprise! Sebuah tas berlambang union jack (lambang negara inggris) dan sekotak biskuit dengan kemasan yang lucu. Aduh, mereka baik sekali. Sedih sekali mereka akan pergi. But time goes on, another moment have been waiting ahead.

Murid King Edward's yang datang berkunjung dan berpamitan :')

Murid King Edward’s yang datang berkunjung dan berpamitan :’)

              Kamis pagi, semua staff bersiap-siap di kantor untuk berangkat. Namun kali ini kami  tidak berangkat dengan school group, hanya dengan scientist karena school group masih ada kelas di Labundo-bundo dan akan menyusul keesokan harinya. Okay, let’s go guys! Perjalanan menuju starting point Lapago Camp ditempuh sangat singkat, 15 menit saja dengan menggunakan kendaraan yang disebut “blue car” oleh bule, ini bukan seperti taksi “blue bird” ya! Melainkan pete-pete atau angkot,hahaha.. Setibanya di starting point kami disambut hujan, ya seperti biasa. Untuk track menuju Lapago Camp sebenarnya tidak sesulit track di Bala Camp. Namun sepanjang jalan akan melewati becek yang kebangetan dan ada satu tantangan yaitu jalan yang sempit, miring, dengan tepi jurang. Kalau masalah nanjak, yaa ada beberapa kali nanjak yang cukup jauh tapi gak separah Bala Camp deh nanjaknya. Dan perjalanan menuju Lapago Camp hanya memakan waktu 90 menit atau sekitar 1,5 jam saja. Hingga tibalah kami di Camp. Alhamdulillah, dan puasa tidak menjadi halangan kok! Sehingga saya tetap melanjutkan ibadah tersebut hingga waktu berbuka tiba. Penampakan Camp di Lapago mirip dengan Bala, tidak terbuat dari bangunan semi permanen, tidurpun tetap di Hammock. Satu keistimewaan adalah WC nya yang paling layak guna.. Heheh.

Lapago Camp

Lapago Camp

Camp untuk tidur berisikan hammock

Camp untuk tidur berisikan hammock

wc paling masuk akal

wc paling masuk akal

             Untuk Lapago Camp, saya merasakan perbedaan suasana mood yang signifikan. Tidak seceria di camp sebelumnya. Hmm,kenapa ya? Padahal staff nya baik kok! Ia sih cuma tidak seakrab dan seceria staff di Buton Utara ataupun Bala Camp. Padahal saya paling lama menghabiskan waktu di Camp ini! Oh tidak, waktu akan terasa sangat panjang.  Dan, disini staff dapur tidak seasik di 2 camp sebelumnya. Saya tidak mendapatkan kesempatan masak-masak disini,hiks..ga asik! Kebanyakan staff pun tidak berpuasa, padahal mereka mengakui beragama Islam, alasannya sih capek, kerja keraslah, apa lah..Padahal itulah salah satu tujuan puasa. Saya sebenarnya mau ngasih masukan sih, tapi gak usah deh..paling dianggap angin lalu, karena mereka emang kelihatannya sulit menerima. Baiklah itu menjadi urusan kalian, untung saja ada 2 staff yang cukup taat beragama. Hanya merekalah yang berpuasa dan shalat,Alhamdulillah. Maka semua akumulasi suasana ini pun menjadikan waktu terasa semakin lambat. Sehingga yang saya lakukan bila sedang tak ada aktivitas di siang hari hanya duduk menikmati sungai dan air terjun,ohh betapa muram durjana nya diriku. Satu-satunya moment yang menghibur hati yang muram durjana ini adalah ketika dinner, yaitu pukul 6 sore karena saya pun telah berbuka puasa dan bisa bergabung di tempat makan bersama para staff bule, scientist dan anggota school group. Selain itu setelah makan malam, saya paling suka bercanda dengan bule-bule yang jadi asisten scientist. Saya dia ajar main kartu dan sendok. Semacam permainan kecepatan menyusun kartu dan memperebutkan sendok. Selain itu salah satu staff bernama Lamimi, memiliki banyak games yang membutuhkan partisipasi sukarelawan yang akan dikerjain. Zoe si asisten scientist paling sering menjadi korban games usil. Tapi dia pun menikmati dikerjain,hahaha. Selain itu biasanya pada malam hari staff camp akan membuatkan “gelang hutan” yang terbuat dari rotan bagi para school group sebagai bentuk kenang-kenangan. Saya gak mau ketinggalan dong, dan saya berhasil mengoleksi 4 gelang dengan bahan yang berbeda-beda..yeeyy..

Air terjun yang menjadi saksi bisu penantian saya, *lho?

Air terjun yang menjadi saksi bisu penantian saya, *lho?

Tadaaa..4 fantastic "gelang hutan"

Tadaaa..4 fantastic “gelang hutan”

Hari demi hari perlahan berlalu. Setelah melewati 6 hari yang terasa sangat lama maka ketika hari selasa tiba, saya pun sangat senang. Mau pulaaangg, teriak jiwa saya. Saya tak lagi peduli dengan track nanjak dan jalanan becek. Saya mau lari dan segera tiba di Labundo-bundo! Dan saya mau menikmati minggu terakhir saya di Labundo-bundo sebelum pulang ke Makassar. Let’s go! Bye Lapago Camp, Yeah!

Bye Lapago Camp!

Bye Lapago Camp!

4th week. Labundo-bundo

              Akhirnya tiba pada minggu ke empat, yang juga merupakan minggu terakhir saya bertugas sebagai staff medis. Saya mendapatkan kesempatan untuk terbebas dari masuk camp di tengah hutan belantara dan stand by di Labundo-bundo untuk bekerja di klinik. Mari rileks! Hari pertama di minggu ke empat, saat dinner di restoran seorang wanita dengan wajah ceria menghampiri saya. Kami pun berkenalan, namanya Muna. Staff opwall yang mengajar di kelas budaya. Mba Muna sangat ramah dan saya merasa langsung akrab dengan Mba Muna. Saat pertama kali Mba Muna bertemu saya, dia bercerita bahwa saya menjadi obyek pembahasan saat kelas bahasa Indonesia dengan murid King Edward School makanya dia sangat penasaran ingin bertemu dengan saya, yaa..namun baru kali ini bisa ketemu karena jam terbang saya masuk camp tergolong padat. Hmm, bercerita soal King Edward’s School,emm saya ingat! Mereka yang saya dampingi saat di Bala Camp. Katanya saat Mba Muna mengajarkan kalimat yang menggunakan kata “suka”. Maka si Nick, salah satu murid yang paling akrab dengan saya mencoba membuat kalimat “Saya suka dokter Andini,cause she made a great food” Wuahh..saya kan jadi tersipu malu. Ternyata Mrs.Hill pun tak mau ketinggalan, beliau langsung bercerita panjang lebar tentang saya. Beliau menyukai saya karena sangat peduli dan baik dengan muridnya. Oh, saya pun langsung kangen dengan mereka :’)

Menikmati kamar  di minggu ke empat

Menikmati kamar di minggu ke empat

dan menikmati hari-hari di klinik

dan menikmati hari-hari di klinik

              Nah, karena pada minggu ini saya tidak masuk camp maka minggu ini saya akan mendedikasikan banyak waktu di klinik. Saya lalu, melakukan inventarisasi alat-alat medis dan obat yang ada di klinik, bersih-bersih klinik. Serasa klinik milik sendiri,hihihi. Selain itu, saya bisa lebih dekat dengan warga Labundo-bundo di minggu ini. Tetapi stand by di desa gak berarti gak ada kerjaan lho.  Pasien yang berdatangan ke klinik lumayan juga, dari kasus biasa sampai luar biasa. Kasus biasa yah, seperti pasien flu..maklum bule-bule baru terpapar hujan yang berkepanjangan, maka flu pun dengan mudahnya menyerang. Ada pula penyakit jamur aneka rupa, dari jamur di badan, lengan, dan yang paling nge-trend di kaki yang mereka sebut dengan monkey foot atau sebenarnya athlete foot (tinea pedis). Nah, untuk kasus berat sendiri adalah pasien digigit ular dikepala, kuping dan leher..sampai bercucuran darah. Untung saja ularnya tidak berbisa. Karena bila berbisa, untuk penanganan awal saya haru memasangkan torniket atau membebat, tapi ini bukan tangan atau kaki. Tapi kepala..! Masa diikat di leher -_- . Untung saja lukanya dapat saya tangani tanpa harus merujuk ke ibukota kabupaten.

              Tidak sampai disitu, sebagai staff medis yang bekerja untuk Opwall. Saya tidak hanya mengabdikan diri membantu staff ataupun bule-bule anak sekolahan tetapi juga warga Labundo-bundo. Maka panggilan home visit pun saya jalani. Kasusnya lumayan juga, ada yang penanganan rutin pasien pasca luka robek karena gigitan ular piton, pasien dengan abses (infeksi) di punggung bawah yang membutuhkan penanganan bedah minor, sampai dikagetkan oleh warga yang pingsan. Mereka sangat mengandalkan staff medis yang direkrut oleh Opwall, karena  di luar musim Opwall maka di desa mereka tak akan ada fasilitas klinik apalagi dokter. Selain itu, dokter yang stand by di Labundo-bundo harus siap apabila ada panggilan evakuasi peserta yang kena masalah medis di hutan sekitar Labundo-bundo.  Nah, pernah sekali saat saya stand by ada seorang scientist yang terjatuh di tengah hutan dan butuh segera di evakuasi. Saya pun segera menuju hutan bersama staff lokal dan dokter bule yang juga stand by, namanya dr James. Ya ampun, saat berjalan di hutan luar biasa langkahnya si bule-bule. Mereka jalan cuma selangkah, eh saya tertatih sampe 3 langkah. Nasibb orang badan kecil,huhuhu..

office, tempat kerja plus nongkrong

office, tempat kerja plus nongkrong

              Tapi banyak hal yang seru juga saat berkesempatan stand by di Labundo-bundo. Karena saya bisa mengikuti kuliah science dan yang paling saya suka adalah mendampingi Mba Muna mengajar di kelas budaya seperti kelas bahasa Indonesia dan traditional cooking class. Seru sekali. Karena minggu ini pekerjaan yang saya lakukan sangat asik, maka hampirlah tiba di penghujung minggu dan itu berarti saya harus siap-siap pulang ke Makassar. Sedih juga rasanya, padahal saya masih mau mengunjungi pasien yang sakit di rumah. Namun suatu saat, setelah makan malam Charlotte sang manager Opwall datang menghampiri saya beserta Sarah, si perawat bule. Dan meminta saya untuk tinggal seminggu lagi! Surprise sekali! Langsung saja saya katakan “Yes I Will!” Namun, saya mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan proyek sosial Opwall, yaitu melaksanakan pengobatan gratis bagi warga desa di 4 desa. Baiklah! Dengan senang hati, saya akan mempersiapkan semuanya. Thanks Boss and hey Labundo-bundo we still have a week to spend together. Yeaahh..!

Nonton bule-bule ikut cooking class

Nonton bule-bule ikut cooking class

5th Week. The lst week, I’ll show my high dedication of my job!

              Tak percaya ya, seharusnya di awal minggu kelima saya sudah harus pulang ke Makassar. Namun saya mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan proyek sosial Opwall atau yang akrab bagi saya seperti Baksos atau bakti sosial. Namun luar biasa, kepercayaan yang diberikan merupakan kepercayaan penuh. Maksudnyaaa adalah semuaaa teknisnya diserahkan pada saya. Mulai dari pengurusan birokrasi dari pemerintahan, instansi kesehatan setempat, persiapan alat dan obat, administrasi, publikasi dan saya sendiri sebagai dokter yang memeriksa! Wow… untung saja saat kuliahan dulu baksos menjadi kegiatan rutin yang sering saya laksanakan di organisasi saya. Maka, untuk pengurusannya saya tak perlu bingung. Untung saja ada Pak Mantan, sosok orang yang menjadi panutan di Labundo-bundo yang mau menemani saya mengurus masalah birokrasi di 3 desa yang lokasinya tidak dekat.

              Namun saya mendapatkan kesempatan kabur melihat kota Bau-bau setelah selesai membeli persiapan obat-obatan baksos. Waktu 2 jam sebelum dijemput dan kembali ke Labundo-bundo tak saya sia-siakan. Dengan modal nekat saya pun menyewa ojek dan minta di antar ke lokasi wisata di Kota Bau-bau yaitu berkeliling benteng kesultanan buton. Saya pun berhasil mengunjungi lingkungan mesjid keraton, makam sultan murhum, bahkan menemukan makam Raja Gowa XIII dan Gua Arung Palakka, yang mana keduanya merupakan tokoh dari kampung halaman saya. Luar biasa, wisata sejarah yang singkat..eheheh.. Tapi belum kesampaian sih melihat pantai nirwana, pantai kamali, dan melihat rumah sakit angker yang sempat masuk mister tukul jalan-jalan. Next time saya harus menyelesaikan explore Bau-bau! Okeh, mari kembali bekerja, Labundo-bundo I’m back!

Nyasar di Kesultanan Buton

Nyasar di Kesultanan Buton

              Setelah persiapan telah selesai, tibalah pada hari pertama bakti sosial yang berlokasi di Desa Lawele. Saat tiba di puskesmas yang menjadi lokasi baksos, saya dikagetkan oleh ramainya pasien. Tapi ini bisa menggambarkan bahwa baksos ini mendapatkan respon yang sangat baik. Semangat Andini! Mari mengabdikan diri untuk warga desa :’) Suasana berbeda saya dapatkan saat bekerja di baksos kali ini, karena saya didampingi oleh Sarah, perawat bule. Jadi, sarah membantu saya mengukur tanda vital  dan saya yang melakukan wawancara serta pemeriksaan fisis pada pasien. Duet yang unik dan tak pernah saya temui sebelumnya.Hehehe.. Satu persatu pasien saya tangani, dari pagi hingga sore menjelang akhirnya pasien berjumlah 83 pun habis! Memang sih capek, namun senyum pasien yang pulang cukup mengobati lelah ini. Ditambah saat itu adalah Ramadhan, jadi mari beramal!

Baksos hari pertama

Baksos hari pertama

Pasien rame yah!

Pasien rame yah!

Tanpa jeda, keesokan harinya saya melanjutkan baksos di lokasi kedua yaitu di Desa Talingko, untung saja Desa ini tidak sebesar Desa Lawele. Namun kali ini saya bekerja sendiri, tanpa Sarah yang mendampingi seperti hari sebelumnya. Dikarenakan Sarah ditugaskan mendampingi school group yang masuk camp untuk jungle training. Syukurlah pasien tak terlalu banyak, 30 pasien saja. Dan saya pun mengakhiri hari kedua, namun saya melanjutkan persiapan untuk lokasi terakhir yang akan dilaksanakan 2 hari kemudian. Persiapan harus matang, karena desa yang terakhir merupakan desa terbesar.

Baksos hari kedua

Baksos hari kedua

              Hingga tibalah pada hari baksos terakhir di Desa Watambo yang lokasinya paling jauh. Kali ini saya mendapatkan bantuan dr.Tessy yang pulang lebih awal dari Bala Camp. Maka 94 pasien pun selesai kami tangani. Akhirnya, selesai juga rangkaian Baksos Opwall ini, dan kepala desa pun mengucapkan terima kasih atas proyek sosial ini dan berharap masih berlanjut tahun depan. Dan saya menyampaikan semua itu saat rapat staff pada malam harinya. Seusai rapat staff, saya berkumpul dengan rekan-rekan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan staff lokal. Kami bercanda, bercerita, dan bernyanyi bersama. Tak terasa mereka sudah seperti keluarga, sedih rasanya besok harus berpisah. Dan di pagi hari saat hari keberangkatan saya bangun lebih awal karena berniat pamit ke warga Labundo-bundo dan staff yang masih tinggal. Berat rasanya berpisah dengan Opwall, but life goes on. Saya pun sudah kangen dengan keluarga di Makassar dan tak sabar menyambut hari raya Idul Fitri yang tak lama lagi.

baksos di watambo

baksos di watambo

Baksos hari ketiga

Baksos hari ketiga

              Terima kasih atas kesempatan menjadi bagian dari Operation Wallacea. Merupakan suatu kebanggaan, kebahagiaan, dan pengalaman yang luar biasa bisa bergabung di sini dan berkenalan dengan orang-orang yang tak kalah luar biasanya. Semoga tahun depan saya masih bergabung lagi. See you guys!

I Love You Guys!

I Love You Guys!

Advertisements

About celotehsihijau

Hi saya Andini Afliani Putri, Bisa dipanggil andini  tapi entah kenapa banyak yang manggil Digon.. Seorang pelayan kesehatan rakyat yang lagi bekerja di salah satu sudut Kalimantan, di Kutai Kartanegara. Pembelajar seumur hidup yang berjuang meraih JannahNya.. Pemimpi yang terbangun untuk mewujudkan sang mimpi.. Penulis yang lebih banyak tidurnya.. Petualang yang kadang masih terkekang.. Sangat cinta traveling, petualangan,  budaya, wisata kuliner, mountaineering, nyanyi (suara pas kurang dikit  :p), saat ini berupaya mengembangkan kecintaan dalam menulis khususnya travel writing, dan bekerja untuk kemanusiaan Bagi yang ingin bertukar info atau sharing apa aja  bisa  kok ketemuan di : FB : Andini Afliani Putri Twitter : @AndiniAfliani Cheers!

3 responses »

  1. uhhui..I like this, my elbow looks so sexy @ cooking class hahaaa…thanks Andini u wrote beautifully ( hehee..good things about me in it) , and hope will be an input for improvement lapago camp’s crew/staff (specially in the kitchen department, should be a new minister for the Lapago’s kitchen hahaaaa….)

  2. Hai mba, salam kenal 😀 saya juga alumni opwall lho, tahun 2005 (kalo ga salah). Dulu ngambil penelitian kelelawar sama Kak Juliana Senawi. Seneng banget baca blognya. Berasa nostalgia deh..hahaha

    • Hai juga mba esti,salam kenal balik dari saya..wah berarti mba senior banget deh,,mungkin saat itu yang jadi dokternya dr hasan atau dr uswah ya? Iaa..opwal itu seru dan unforgetable,hehehe…kalo yg skarang scientist kalelawar namanya malta,nathan adam..tapi dari ipb ga ada kyaknya..okay mba thanks udah visit dan comment blog saya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s