Koas Anak : Panjang, Melelahkan, Menyenangkan!

Standard

Bagian ini menghabiskan waktu cukup lama, 10 minggu. Namun terlalu singkat untuk mendalami penyakit pada anak-anak. Saat itu saya masuk bagian anak dengan 12 orang lainnya yang tidak satupun merupakan teman jalan saya semasa pre klinik. Tapi disinilah awal persahabatan di antara kami. Bagian ini terasa lumayan berat bagi koas minggu awal yang diharuskan mengikuti 12 jaga dalam satu minggu (contoh: jaga siang jam 2siang-9malam dihitung 1 jaga dilanjut jam 9malam-7pagi 1 jaga) So kalo nginap ada 2  jaga. Jadi,bisa dibayangkan dalam satu  minggu Cuma ada sedikit waktu untuk berbaring dengan nyenyak di rumah. Hal ini tidak hanya terjadi di minggu pertama namun berlanjut di minggu kedua dikarenakan saat itu gak ada koas yang berani masuk bagian ini karena gak lama lagi bulan puasa.Huff..

Alhasil kamar koas anak menjadi rumah kedua bagiku selama berada di bagian ini. Disana menjadi tempat melepas lelah, letih, lesu dan lunglai setelah seharian dinas dilanjutkan jaga. Jadilah ruangan kecil dengan alas kassur dan hembusan kipas anginn mengembalikan stamina yang lowbat. Yah..menyinggung soal kamar kamar koas, pertama kali diperkenalkan oleh chief bahwa ini adalah kamar koas anak, saya gak habis pikir apa bisa kita tidur di tempat pengap dan berantakan seperti itu ya? Ya,memang saat itu kamar tersebut sangat berantakan banget, tas bertebaran dan banyak barang tidak jelas plus sampah yang ihh..malas banget. Disitulah timbul inspirasi untuk me make over kamar koas, tentunya demi kenyamanan bersama. Untung juga sih saat itu saya memegang uang kas minggu, makanya atas izin teman-teman saya pun menambah beberapa perlengkapan kamar dan yang paling penting membersihkan kamar tersebut..Dan

tadaaa! Inilah kamar koas anak pasca make over

Atas kerempongan saya ngurus kamar koas. Saya pun diberi gelar menteri kebersihan dan persampahan (jabatan yang gak banget deh).

***

Teman-teman satu subdivisi yang sangat kompak plus 2 pasien (Cevin&Sartika)

Pada bagian ini yang berkesan bagiku adalah saat di subdivisi hematologi. Baik teman satu subdivisi, residen maupun pasien semuanya sangat menyenangkan. Teman-teman di subdivisi sangat kompak, ya eyalah kapten subdivisinya saya (narsis cyinn), tiap hari ada dresscode nya lho. Padahal sbenarnya ini hanya salah satu cara untuk menjaga kekompakan. Residennya pun sangat friendly dibanding subdivisi yang lain dan soal pasien atau keluarga pasien bagiku mereka sangat hebat. Menurutku orang tua yang anaknya terkena penyakit keganasan sebagai contoh kasus terbanyak  adalah leukemia, mereka adalah orang tua yang tangguh. Setiap 2 minggu mereka setia menemani anaknya untuk dirawat inap di Rumah Sakit untuk keperluan kemoterapi yang telah diprogramkan bagi penderita penyakit keganasan dan tentunya hal ini berlangsung tahunan. Belum lagi perjuangan mereka menemani  anaknya apabila memasuki masa sulit misalnya saat anaknya demam tinggi akibat infeksi karena kekebalan tubuh mereka sangat menurun. Begadang semalaman pun sudah biasa bagi mereka. Sebagai koas anak yang sering mendampingi mereka pada akhirnya hubungan antar koas dengan pasien ataupun keluarganya menjadi sangat dekat. Ya karena selama 3 bulan kami sering berinteraksi. Jadi tak heran bila mereka dengan ramahnya menyapa di luar Rumah Sakit.

***

Salah satu pasien yang saya kenal dan gigih melawan penyakitnya bernama Cevin. Dia telah berobat satu tahun lebih. Bangsal anak sudah serasa rumah pertama baginya dan kami para koas anak adalah teman bermainnya. Ditusuk jarum suntik yang hampir setiap hari, merupakan hal yang biasa baginya. Padahal banyak orang yang takut dengan jarum suntik bahkan koas banyak lho walaupun mereka sering bergaul dengan benda tersebut. Suatu hari saat hendak melakukan follow up terhadap keadaan Cevin, saya mendapatinya terbaring sambil memeluk bantal dan…menangis! Tidak biasanya dia begitu. Saya jadi penasaran, ada apa dengannya? Padahal dia adalah pasien paling ceria. Ternyata setelah berbincang dengan ibunya dia saya akhirnya tahu kalau hari ini dia berulang tahun dan dia sangat ingin bertemu dengan ayahnya yang saat ini berada di Ambon. Setelah mendengar cerita itu saya dan teman koas saya saat itu memutuskan untuk memberikan surprise ala kadarnya. Dan ala surprise remaja-remaja saya,teman-teman koas,residen anak,bahkan perawat masuk ke kamarnya sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun.. dia senang! Pastinya saya pun sangat senang.Syukurlah…

Surprise buat Cevin ^^

Namun tak lama setelah keluar dari bagian anak, saya mendengar kabar bahwa kevin telah meninggal… L akibat program kemoterapi nya yang gagal dan dia harus mengulang siklus kemoterapi dari awal. Namun sepertinya ia lebih memilih menghabiskan sisa waktunya bersama orang yang ia sayangi di Ambon. Selamat jalan sobat, semoga engkau bahagia di sana.

***

Memasuki minggu ke 7 di bagian ini mulai terasa semakin menantang. Ya, saat itu memasuki bulan puasa, dan tidak ada koas yang masuk bagian anak. Tidak tanggung 6 minggu di bawahku kosong! Hahahaha..antara mau gila dan stress memikirkan jatah jaga dan follow up yang akan tetap jatuh pada kami padahal kami sudah terhitung minggu senior. Apalah daya, pasrah dan mencoba enjoy dengan keadaan harus  saya coba. Tapi sepertinya keadaan yang tertatih ini membuat saya dan teman-teman koas yang tersisa menjadi sangat akrab. Ya iyalah, yang kerja itu-itu saja. Keadaan ini pun yang mengakrabkan kami dengan beberapa residen anak yang sering bertugas di bangsal. Jaga bersama, buka puasa bersama dan sahur bersamadi bangsal menjadi pengalaman baru dan pastinya tak terlupakan.

***

Welcome to NICU ! It's a world of babies!

Dan mamasuki minggu ke 9 sayapun memasuk subdivisi perinatalogi, tempat berjumpa dengan bayi-bayi. Tetapi bagian ini mengharuskan kami tinggal seminggu di NICU (Neonatus Intensive Care Unit), tempat perawatan bagi bayi-bayi gawat. Nah, di bagian ini pun ada peristiwa lucu yang selalu teringat. Suatu malam, masuklah seorang bayi laki-laki post operasi atresia ani (bayi tanpa lubang anus). Ia masuk di dampingi petugas evakuator, perawat, dan kedua orang tuanya. Karena saat itu bayinya sedang dalam keadaan kritis, maka ia belum bisa mendapat asi langsung dari ibunya. Ya, tentunya karena keadaanya masih sangat lemah. Namun kebutuhan cairannya tetap harus tercukupi dengan cara memberikan ASI ibunya melalui alat OGT (Oral Gastric Tube).Maka saya pun meminta si ibu untuk memerah ASI nya. Saat sedang memerah ASI saya pun meninggalkan si ibu untuk mengerjakan pekerjaan lain. Saat saya kembali saya mendapati botol susu sudah terisi lebih setengah botol. Wow! Hal ini luar biasa menurutku, mengingat ada ibu bayi lain yang sangat kesulitan dengan ASI. Saya pun menghampiri ibu itu

“Wah..Ibu..bagus sekali yah.ASI nya banyak”

“Eh,iye dok..” (masih sambil melanjutkan memerah ASI)

Saya berpikir dia akan mengisi penuh botol susu ASI tersebut untuk persiapan hari ini. Namun si ibu tiba-tiba melakukan perbuatan tidak terduga…

“pyyyuuuuurrrrr”

Si ibu membuang ASI nya dengan santai di wastafel!!!

“Aaaaaaa,,ibuuuuuu kenapaaa dibuaaanggg kasihannn. Banyak ibu yang mau kasi anaknya ASI, tapi tidak bisa karena tidak ada ASInya keluar. Nah, ini ibu…santainya dibuang begituuuuu” saya setengah berteriak.

E..e..eh.. si ibu dengan santainya menjawab

“Biarmi Dok, basi mi…”

“Hah? Basi? Maksudnya Bu?” tanyaku…

“Iya Dok, basi.. soalnya sudah 3 hari saya tidak peras. Jadi yang dalam sini basi mi” jawabnya..

Gosh! Spektakuler dan aneh juga pemikiran ibu ini. Aduduhh ibu dapat teori dari mana sihh. Emangnya ASI tuh susu formula yang kalo tiga hari gak diminum bakalan basi. Ampun Bu! Sepertinya saya memang diutus untuk mempresentasikan materi tentang ASI buat si ibu.

***

Akhirnya, memasuki minggu 10! Senang dan deg-deg an. Karena akan menyelesaikan bagian ini tapi sebelumnya harus ujian! Awww… selalu saja tiap mau ujian, kata-kata tidak siap selalu nyangkut. Tidak! Saya harus menyelesaikan bagian ini pikirku. Dan saya pun melalui ujian di bagian ini dengan lancar, Alhamdulillah. Tapi selesai ujian, tidak berarti terlepas dari jaga! Oh No! saya masih harus jaga hingga minggu pagi. Hal yang tidak pernah terjadi apabila bagian ini terisi oleh koas tiap minggunya. Baiklah, kujalani saja. Dengan prinsip give the best for the last! Daann setelah habis jam jaga rasanya seperti ingin mengibarkan bendera kemerdekaan. Akhirnyaa, selesai juga. Saya pun pulang ke rumah dan memikirkan sore ini akan menyiapkan buka puasa bersama mama, setelah 4 minggu tidak pernah membantunya. Hmm.. jadi menurutku, bagian ini bagian yang sangat berkesan walaupun panjang dan melelahkan namun menyimpan cerita yang tak ada habisnya bila ingin dibongkar. See u Pediatry Departement^^

Depan bangsal anak.Foto di hari terakhir di bagian ini. Merdeka!

Advertisements

About celotehsihijau

Hi saya Andini Afliani Putri, Bisa dipanggil andini  tapi entah kenapa banyak yang manggil Digon.. Seorang pelayan kesehatan rakyat yang lagi bekerja di salah satu sudut Kalimantan, di Kutai Kartanegara. Pembelajar seumur hidup yang berjuang meraih JannahNya.. Pemimpi yang terbangun untuk mewujudkan sang mimpi.. Penulis yang lebih banyak tidurnya.. Petualang yang kadang masih terkekang.. Sangat cinta traveling, petualangan,  budaya, wisata kuliner, mountaineering, nyanyi (suara pas kurang dikit  :p), saat ini berupaya mengembangkan kecintaan dalam menulis khususnya travel writing, dan bekerja untuk kemanusiaan Bagi yang ingin bertukar info atau sharing apa aja  bisa  kok ketemuan di : FB : Andini Afliani Putri Twitter : @AndiniAfliani Cheers!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s