Koas Jiwa : Mari menyelam di dunia lain!

Standard

Bagian pertama yang mendebarkan. Hari pertama menginjakkan kaki di depan RS.Dadi (RS Jiwa di Kota Makassar) langsung disambut seorang wanita dengan perawakan yang sederhana dan cukup terawat dengan wajah sumringah ia menyodorkan tangannya

“Halo Dok,kenalan dulue…”

Sebagai pendatang baru di tempat ini saya sempat dihantui rasa phobia. Namun perasaan ini perlahan-lahan menghilang. Selama kurang lebih sebulan saya akan berhadapan dengan orang-orang dengan gangguan jiwa entah yang betul-betul terganggu sampai kehilangan akal sehat atau orang yang cukup terganggu ketenteraman jiwanya (depresi,cemas,dll).

karya pasien lho,buat saya^^

Di RS tersebut saya teringat betapa beringasnya orang yang sedang terguncang jiwanya. Saat sedang jaga, saya menerima pasien baru di bangsal laki-laki dan diharuskan mengukur tanda vitalnya sebagai pelengkap status baru. Saat saya melingkarkan  manset spigmomanometer (alat pengukur tekanan darah) pada lengan pasien tersebut. Tiba-tiba “arrrrr!” si pasien menerkam tangan saya..huwaaaa..takutnya setengah  mampus.Padahal si pasien dalam keadaan terikat kaki dan tangannya,ternyata lehernya masih bisa kemana mana. Namun jangan kira orang sakit jiwa tidak memiliki jiwa sosial, saat koas di sana saya mendapatkan gelang pemberian pasien yang saya dapatkan hanya dengan memuji

“Wah..gelangmu bagus yah?”

dia pun langsung menjawab “Iyokah,Dok? Ambil mi pale buat kita”

karena saya merasa gak enak saya menolak dengan halus “Emm..jangan Bu nanti ada yang marah”

Sejenak ibu tersebut terdiam lalu berkata “Ya! Tuhan akan marah kalo dokter tidak ambil, ambil dokk!” dengan mata melotot gelang tersebut disodorkan.

Saya pun pasrah menerimanya. Pernah juga ada seorang pasien Bapak mengahmpiriku saat sedang dinas di bangsal laki-laki. Saat saya sedang sibuk menulis status, dia berkata

“Dok,pinjamka satu pulpenta”

Nah lho,si Bapak mengganggu aja nih.Saya menjawab “mauki apa Pak? Janganmi nah,nanti saya juga mau pake”

Eh..si Bapak bilang “kasi ma’ dok, nanti saya kasi kan ki sesuatu”

Saya penasaran apa sih yang si Bapak mau beri. Setelah kupinjamkan pulpen dia lantas menulis di sebuah kertas dan kertas tersebut disodorkan pada saya. “Ini Dok,buat kita.Mudah-mudahan bermanfaat”

Setengah bersemangat saya membaca apa yang ditulis si Bapak di kertas, ternyata yang ia tulis *Doa Kekebalan Tubuh* Wow! Ternyata si Bapak obsesi jadi rambo atau ponari kali ya..

Pokoknya bagian ini bagaikan dunia lain. Bagi orang sakit jiwa dunia ini bagaikan surga firdaus, kira-kira gimana tuh? Eheheh.. Semoga mereka dapat menikmati hidup dan diperlakukan layaknya orang yang tidak sakit jiwa.

Advertisements

About celotehsihijau

Hi saya Andini Afliani Putri, Bisa dipanggil andini  tapi entah kenapa banyak yang manggil Digon.. Seorang pelayan kesehatan rakyat yang lagi bekerja di salah satu sudut Kalimantan, di Kutai Kartanegara. Pembelajar seumur hidup yang berjuang meraih JannahNya.. Pemimpi yang terbangun untuk mewujudkan sang mimpi.. Penulis yang lebih banyak tidurnya.. Petualang yang kadang masih terkekang.. Sangat cinta traveling, petualangan,  budaya, wisata kuliner, mountaineering, nyanyi (suara pas kurang dikit  :p), saat ini berupaya mengembangkan kecintaan dalam menulis khususnya travel writing, dan bekerja untuk kemanusiaan Bagi yang ingin bertukar info atau sharing apa aja  bisa  kok ketemuan di : FB : Andini Afliani Putri Twitter : @AndiniAfliani Cheers!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s